Lanjut ke konten

Kajian Hadits-hadits Khotbah Nikah yang Beredar di Kandangan Khususnya dan Kalimantan Selatan Umumnya

HADITS-HADITS BERMASALAH DALAM KHOTBAH NIKAH
Husain Benhadi

Ketika menghadiri acara akad nikah saudari dari sahabat kami, ada rasa senang, sedih, bingung, gelisah dan rasa takut yang bercampur aduk.Mengapa hal itu terjadi. Begini ceritanya, ketika akad nikah dimulai dan sang penghulu, dengan gaya meyakinkan dan suara merdu -meski bukan qari yang menjadi syarat keabsahan seorang imam salat-, membaca (merapalkan) khotbah, sekali lagi membacakan khotbah, bukan berkhotbah -karena kalau berkhotbah tentunya mengerti apa yang dikhotbahkan-, yang dimulai dengan bacaan, sekali lagi bacaan, khotbah hajjah, khotbah yang berisi pujian kepada Allah, permohonan pertolongan, keampunan serta perlindungan dari kejahatan diri dan amal perbuatan, tentang orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan yang disesatkan, berisi tentang kesaksian ketauhidan dan ketiadaan sekutu bagi-Nya, serta kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, khotbah selanjutnya berisi tentang kehalalan pernikahan serta keharaman dan ancaman perzinaan dengan berbagai kutipan dari beberapa ayat dari al-Qur`an dan diikuti dengan wasiat takwa yang dikutip dari beberapa ayat al-Qur`an yang merupakan bagian dari khotbah hajjah. Namun ketika sang penghulu, masih dengan gaya meyakinkan dan suara merdu, membacakan kutipan lima hadits (?) Nabi saw. dengan kutipan yang tegas menyatakan hadits (?) berasal dari Rasulullah saw. (shigat jazm).Disinilah bermula perasaan yang campuk aduk tersebut. Mengapa hal ini terjadi, mengapa tidak, ketika sang penghulu membacakan (mengutip) hadits (?) “Pernikahan merupakan sunnahku dan siapa yang tidak melaksanakannya maka ia bukan dari golonganku”(hadits 1). Ingatan langsung membayangkan beberapa ulama besar, seperti Imam an-Nawawi dan bahkan beberapa sahabat Nabi saw. yang belum dan tidak menikah, apakah mereka bukan termasuk golongan Nabi saw. karena tidak dan belum menikah, padahal mereka adalah pembela Sunnah Nabi saw., atau mungkinkah hadits itu bermasalah atau hadits itu perlu diberi penjelasan atau penafsiran lain.
Masih dengan gaya meyakinkan dan suara yang dimerdu-merdukan, sang penghulu menyambung dengan membacakan kutipan hadits selanjutnya “Setiap pemuda yang telah kawin, maka setannya berteriak dengan mengatakan: Celakalah! Dia telah terpelihara dariku”(hadits 2). Betapa menyenangkan, betapa diri telah terpelihara dari setan cuma dengan perkawinan. Siapa nyana betapa banyak pemuda, dari mereka yang telah kawin, telah, masih dan terus menjadi budak setan dengan berselingkuh dan jajan sembarangan. Nubuat Nabi saw. pasti akan terjadi, namun mengapa hal ini terjadi, siapakah yang salah dalam hal ini.
Masih dengan gaya meyakinkan namun dengan suara agak serak, sang penghulu melanjutkan membacakan kutipan hadits (?) “Dua rakaat dari orang yang telah beristeri lebih utama dari tujuh puluh rakaat dari orang bujang”(hadits 3) Sangatlah memberi harapan dan kegembiraan hadits (?) ini, namun yang mengganjal benarkah janji pahala sebesar itu dengan pekerjaan yang mudah dan menyenangkan, jangan-jangan tidak, seperti keutamaan salat bersurban dengan pahala besar yang ternyata haditsnya lemah atau dhaif. Amalan kecil dengan pahala besar, pantaskah?
Selanjutnya sang penghulu terus melanjutkan membaca khotbah, bukan berkhotbah atau mengkhotbah, dengan membacakan kutipan hadits (?) “Kawinlah kalian dan jangan kalian bercerai! Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai lelaki dan perempuan yang suka mencicip-cicipi”(hadits 4) Patutkah setelah perintah perkawinan diiringi dengan larangan perceraian tanpa menyebutkan alasan, hal ini membingungkan.
Selanjutnya tanpa rasa bersalah, mungkin karena tidak tahu, tapi kenapa berani jadi penghulu, apacuma modal nekad? Sang penghulu melanjutkan membaca khotbah dengan kutipan hadits (?)“Kawinilah perempuan-perempuan, karena sesungguhnya mereka akan mendatangkan kekayaan”(hadits 5) Alangkah menarik hati perkawinan itu, hanya dengan mengawini perempuan-perempuan, sekali lagi perempuan-perempuan, akan mendatangkan kekayaan. Benarkah itu, kalau diperhatikan banyak orang yang telah kawin mereka tetap miskin dan bahkan banyak yang perkawinan menyebabkan kemelaratan. Siapakah yang salah dalam hal ini, sebab, sekali lagi, nubuat Nabi saw. pasti akan menjadi kenyataan.
Kutipan-kutipan hadits (?) itulah yang membuat berbagai macam perasaan berkecamuk dan membuat penasaran.
Untuk menghilangkan penasaran dan menentramkan hati dicoba untuk menemukan kutipan-kutipan hadits (?) tersebut yang ternyata dengan mudah dapat ditemukan dalam kitab Perukunan Melayu karya Abdur Rasyid Banjar pada bab Khotbah Nikah. Demi lebih memuaskan, kutipan-kutipan hadits (?)tersebut dirujuk dengan kitab-kitab hadits yang enam (kutubus sittah). Namun apa lacur, kutipan hadits-hadits (?) dengan redaksi (matan) tersebut tidak ditemukan. Tenang dulu, ternyata ada satu hadits yang sejalan dengan hadits (?) kesatu (1) yang terdapat dalam Sunan Ibnu Majah yang menyatakan “Pernikahan merupakan bagian dari sunnahku, maka siapa yang tidak melaksanakannya maka ia bukan dari golonganku ….. dst.”(Perhatikan kata bagian dari sunnahku) Tapi amat disayangkan hadits tersebut dicap lemah atau dhaif oleh ulama-ulama ahli hadits, karena di dalam sanadnya terdapat ‘Isa bin Maymun dan ia adalah seorang yang lemah. Tunggu dulu, ada kabar gembira, hadits dengan redaksi yang terdapat dalam Sunan Ibnu Majah, bukan redaksi yang dikutip sang penghulu, disahihkan oleh al-Albani dengan berbagai penyokong dan penguat (syawahid dan tawabi’) dari berbagai hadits dengan redaksi yang sangat berjauhan. Tapi kalau hadits ini dianggap sahih seperti anggapan al-Albani maka hadits tersebut pada kalimat tidak melaksanakannya ditafsirkan dengan kalimat membencinya (raghiba ‘an sunnati). Namun hadits dengan redaksi seperti kutipan sang penghulu dalam khotbahnikah tetap tidak ditemukan (laa ashla lahu).
Penasaran masih menggelayut karena belum menemukan jawaban memuaskan.Penasaran itu membawa ke penelusuran pada berbagai kitab penelusuran (kitab takhrij) dan kitab-kitab hadits selain kitab enam. Dengan menelaah kitab-kitab tersebut bermunculanlah hadits-hadits (?) tersebut, seperti hadits kedua (2) muncul dalam kitab al-Mu’jam al-`Awsath karya ath-Thabrani dan Musnad Abu Ya’la dengan redaksi atau matan yang berbeda, yaitu”Setiap pemuda yang kawin pada usia dini, maka setannya akan berteriak: Celaka, celakalah! Telah terpelihara dariku agamanya” Perhatikan kalimat pada usia dini, celaka, dan telah terpelihara dariku agamanya. Benarkah ini hadits Nabi saw., tunggu dulu. Setelah ditelusuri pada sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Khalid bin Isma’il al-Makhzumi dan ia adalah seorang pemalsu hadits, pendusta dan seorang yang ditinggalkan (matruk). Maka nyatalah hadits ini sebagai hadits maudhu’ alias palsu. Selain al-Makhzumi pada sanad hadits ini juga terdapat Shalih bin `Abi Shalih dan ia adalah seorang yang lemah. Lengkaplah sudah kelemahan dan kepalsuan hadits ini.
Hadits ketiga (3) muncul dalam kitab adh-Dhu’afa karya al-‘Uqayli, dari nama kitabnya saja sudah jelas diketahui status hadits tersebut. Tapi, tunggu dulu, ternyata hadits tersebut diperoleh dari sahabat `Anas dan `Abu Hurayrah dan bahkan dalam riwayat `Abu Hurayrah terdapat dua jalur. Selidik punya selidik, ternyata pada riwayat `Anas terdapat perawi yang bernama Mujasyi’ bin ‘Amr dan ia adalah perawi munkar, pendusta dan memalsukan hadits dengan menggunakan perawi terpercaya (tsiqat). Tenang dulu, kan masih ada riwayat Àbu Hurayrah bahkan dua jalur lagi. Eh ternyata pada jalur pertama muncul lagi Khalid bin `Isma’il al-Makhzumi, dengan perawi dan jalur ini kita sudah dapat menebak status hadits ini, yaitu palsu. Jangan gelisah, tenang dulu ada satu jalur lagi, eit, ternyata pada jalur ini terdapat perawi dengan namaYusuf bin as-Safar dan ia adalah seorang pendusta dan ditinggalkan (matruk). Dari penjelasan sedikit di atas maka cukup jelaslah sudah status kepalsuan hadits tersebut, karena hadits palsu tidak dapat dikuatkan dengan hadits palsu. Hei jangan sedih dulu, ternyata ada penyokong untuk hadits tersebut dari riwayat `Anas dengan redaksi yang lain, yaitu “Dua rakaat dari orangyang berkeluarga (berisiteri) lebih baik dari delapan puluh dua rakaat dari orang bujang” Sayang seribu kali sayang hadits dengan redaksi ini dicap hadits munkar oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Albani. Dari satu perawi dengan dua redaksi yang berbeda dapat disimpulkan hadits tersebut sebagai hadits mudhtharib atau hadits goncang dan goyah. Dengan kata lain yang tegas hadits tersebut palsu titik. Dan mesti diingat bahwa hadits palsu merupakan bagian dari hadits dhaif dan bahkan terburuk dari bagian hadits dhaif.
Hadits keempat (4) muncul dalam riwayat ad-Daylami dari sahabat `Abu Hurayrah dengan redaksi yang sama persis, namun di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Syahr bin Hawsyab dan ia adalah seorang perawi yang lemah. Dalam riwayat lain al-Bazzar dan ath-Thabrani muncul hadits serupa dari `Abu Musa al-`Asy’ari, namun tanpa perintah kawinilah dan dengan penyebutkan alasan perceraian, yaitu “Jangan Anda ceraikan perempuan-perempuan kecuali karena ada kebimbangan (ribah), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai lelaki dan perempuan yang suka mencicip-cicipi” Namun amat disayangkan di dalam sanadnya terdapat ’Imran bin al-Qaththan dan ia seorang perawi yang didhaifkan oleh para ulama ahli hadits. Dalam riwayat ath-Thabrani yang lain terdapat hadits dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, namun tanpa perintah perkawinan dan larangan perceraian yang disebutkan hanya “Allah tidak menyukai orang yang suka mencicip-cicipi” Namun sayang, sekali lagi sayang salah seorang perawinya tidak dsebutkan namanya alias majhul atau tidak dikenal. Semua tahu status hadits yang tidak disebutkan nama perawinya adalah hadits lemah alias dhaif.
Tidak perlu berpanjang kalimat untuk hadits kelima (5), terdapat dua redaksi yang hampir bersamaan, seperti hadits yang dikutip sang penghulu dalam khotbahnya dan dengan redaksi “Kawinilah perempuan-perempuan karena sesungguhnya mereka akan mendatangkan kekayaan untuk kalian” Perhatikan kalimat untuk kalian.Danternyata hadits dengan kedua redaksi di atas adalah hadits mursal bukan hadits maushul apalagi hadits marfu’.Hadits mursal adalah hadits dhaif yang tidak dapat dijadikan hujjah.
Demikian sekilas penelusuran hadits-hadits yang dikutip oleh sang penghulu dalam pembacaan khotbah nikah yang biasa dilakukan di daerah ini dan dikutip dari kitab Perukunan Melayu karya Abdur Rasyid Banjar pada bab Khotbah Nikah. Patutkah kita berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu padahal masih banyak hadits sahih tentang keutamaan pernikahan. Ataukah kita akan termasuk orang-orang yang berdusta atas nama Nabi saw. dengan ancaman menjadi penghuni neraka. Atau kita sudah terbiasa berdusta atas nama Nabi saw.tanpa ada seorangpun yang memberi peringatan atau seperti kedustaan yang sering kita lakukan ketika pembacaan atau penceritaan tentang kelahiran Nabi saw. yang banyak terdapat hadits-hadits lemah bahkan palsu.
Menyampaikan hadits-hadits dhaif dan palsu tanpa disertai penjelasan kelemahan dan atau kepalsuannya, sepakat ahli hadits tentang keharamannya. Keharaman adalah sesuatu kemungkaran yang wajib dijelaskan dan ditegah oleh yang mengetahuinya terlebih lagi oleh mereka yang bergelar ulama, kiyai dan tuan guru.
Semoga Allah SWT. memberi kita semua petunjuk kepada kebenaran dan memberikan taufik untuk mengikutinya. Akhirnya ini adalah nasihat untuk kita semua, semoga menjadi amal kebaikan untuk kita.Amin.
Husain Benhadi

Terjemah Kitab

Tauhid para Rasul Allah

Karya
Asy-Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Mufti Kerajaan Arab Saudi

Judul Asli
بيان التوحيد الّذي بعث الله به الرسل جميعا
وبعث به خاتمهم محمدا صلى الله عليه وسلم
تأليف سماحة الشيخ هبد العزيز بن عبد الله بن باز
مفتى عام المملكة العربية السعودية
حقوق الطبع محفوظة 1423 هـ/2001 م

Terjemah
Husain Bahadi

© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
All Rights Reserved
1431 H./2010 M.

Tibung, Kandangan, Senin, 13 Ramadan 1431 H./23 Agustus 2010 M. jam 09.30 WITA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

MUKADDIMAH

Segala puji bagi Allah, Tuhan pencipta sekalian alam, salawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu manusia-manusia pertama dan terakhir, Nabi kita Muhammad dan semoga terlimpah kepada keluarga dan para sahabatnya.
Amma bakdu,
Ini adalah tiga makalah tentang tauhid yang diambil dari kitab saya Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah (Kumpulan Aneka Fatwa dan Makalah),
Pertama: Hakikat Tauhid dan Syirik
Kedua: Tauhid para Rasul dan Lawannya dari Kekafiran dan Kesyirikan
Ketiga: Penjelasan Arti Syirik terhadap Allah.
Saya merasa sebaiknya ketiga makalah itu dikumpulkan dalam satu buku yang diberi judul Tauhid para Rasul Allah, sebagai andil saya dalam memberikan penjelasan tentang tauhid, dan dalam memberikan peringatan tentang kesyirikan yang telah menyebar di kebanyakan negara Islam, berupa pemanggilan pada wali dan orang saleh, bertawassul kepada mereka sesudah mereka wafat, serta membangun kuburan, bernazar untuk kuburan dan mengelilingi kuburan dan lain sebagainya dari berbagai hal atau perbuatan yang merusak tauhid yang disampaikan oleh para rasul, seperti yang dijelaskan dalam Firman Allah ‘azza wa jalla:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzaariyaat (51): 56)
Dan Firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (QS. al-`Anbiyaa` (21): 25)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaaghuut. (QS. an-Nahl (16): 36)
Kepada Allah saya berharap semoga buku ini memberi manfaat kepada hamba-hamba-Nya, semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin, semoga Allah memberi mereka pemahaman dalam agama, sesungguhnya Ia Maha mendengar lagi Mahadekat. Semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

I
HAKIKAT TAUHID DAN SYIRIK

Segala puji milik Allah pencipta alam, tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zalim, salawat dan salam semoga tercurah kepada hamba-Nya, rasul-Nya, yang terpilih dari makhluk-Nya, kepercayaan wahyu-Nya, nabi, pemimpin, dan penghulu kita Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib al-Hasyimiyy al-‘Arabiyy al-Makkiyy al-Madaniyy dan kepada keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang menjalani jalannya serta memetik petunjuk dari hidayahnya hingga hari pembalasan.
Amma bakdu,
Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menciptakan makhluk agar mereka hanya menyembah-Nya, tidak menyekutukan-Nya, dan Allah telah mengutus para rasul untuk menjelaskan hikmah penciptaan makhluk (penyembahan Allah/peribadatan) dan untuk mengajak agar beribadah hanya kepada Allah, menjelaskannya secara rinci serta untuk menjelaskan hal-hal yang bertentangan dengannya. Karena itulah diturunkan berbagai kitab dari langit dan diutus dari sisi Allah ‘azza wa jalla manusia-manusia yang menjadi rasul kepada jin dan manusia. Allah subhaanahu menjadikan dunia ini jalan dan jembatan menuju akhirat, siapa yang memakmurkannya dengan ketaatan dan pentauhidan kepada Allah, mengikuti para rasul-Nya, ‘alayhimush shalaat was salaam, ia akan berpindah dari tempat beramal, yaitu dunia, ke tempat balasan, yaitu akhirat, ia akan berada di tempat kenikmatan, kegembiraan dan kesenangan, tempat kemuliaan dan keberuntungan, tempat di mana kenikmatan tidak akan sirna, penghuninya tak akan mati, pakaiannya tak akan lusuh, kemudaan yang tak akan pudar, bahkan selalu dalam kenikmatan, kesehatan dan kemudaan yang abadi, kehidupan yang berbahagia dan beruntung, kenikmatan yang tak akan punah, dari sisi Allah mereka akan dipanggil dengan:
يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيُوْا فَلاَ تَمُوْتُوْا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوْا فَلاَ تَسْقَمُوْا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوْا فَلاَ تَهْرَمُوْا أَبَدًا إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوْا فَلاَ تَبْأَسُوْا أَبَدًا
Wahai penghuni surga! Sesungguhya kalian akan hidup dan selamanya tak akan pernah mati, sesungguhnya kalian akan sehat dan selamanya tidak akan pernah sakit, sesungguhnya kalian akan muda dan selamanya tak akan pernah tua, sesungguhnya kalian akan mendapat kenikmatan dan selamanya tak akan pernah mendapat bencana.
Inilah keadaan mereka, di dalamnya mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan dan di dalamnya mereka akan memperoleh apa yang mereka kehendaki.
نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ
Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. Fushshilat (41): 32)
Di dalamnya mereka akan bertemu Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana yang dikehendaki Allah, dan mereka akan melihat Wajah Allah Yang Mahamulia jalla wa ‘alaa.
Adapun orang yang, di tempat ini, menyelisihi para rasul dengan mengikuti hawa nafsu dan setan, ia akan berpindah dari tempat ini ke tempat pembalasan, tempat kehinaan dan kerugian, tempat penyiksaan dan berbagai penyakit serta neraka Jahiim yang penghuninya berada dalam siksa dan kecelakaan yang abadi.
لاَ يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلاَ يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا
Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. (QS. Faathir (35): 36)
Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman:
إِنَّهُ مَن يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لاَ يَمُوتُ فِيهَا وَلاَ يَحْيى
Maka barang siapa datang kepada Tuhan-nya dalam keadaan berdosa, maka sungguh, baginya adalah neraka Jahannam, dia tidak akan mati (terus merasakan azab) di dalamnya dan tidak (pula) hidup (tidak dapat bertobat). (QS. Thaahaa (20): 74)
Dan tentang neraka Allah juga berfirman:
وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاء كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءتْ مُرْتَفَقًا
Jika mereka meminta pertolongan (minuman) mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah, (itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS. al-Kahf (18): 29)
Tentang neraka Allah jalla wa ‘alaa berfirman:
وَسُقُوا مَاء حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءهُمْ
Dan diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong. (QS. Muhammad (47): 15)
Maksudnya adalah: tempat ini (dunia) adalah tempat untuk beramal, tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan melaksanakan apa-apa yang diridhai-Nya, tempat ini adalah tempat berjuang melawan nafsu, tempat ini adalah tempat penghitungan diri (introspeksi), tempat untuk memahami dan mendalami agama, tempat untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, tempat saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran, tempat ilmu pengetahuan dan beramal, tempat untuk beribadah dan perjuangan. Allah subhaanahuu wa ta’aalaa berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ * مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku, Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku, sungguh Allah, Dia-lah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. adz-Dzaariyaat (51): 56-58)
Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya ‘azza wa jalla’, Allah tidak menciptakan mereka karena membutuhkan mereka, karena Ia subhaanahuu adalah yang kaya dengan zat-Nya dari segala sesuatu, sebagaimana Allah subhaanahuu berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللهِ وَاللهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ * إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ * وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيزٍ
Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Mahaterpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu tidak sulit bagi Allah. (QS. Faathir (35) 15-17)
Allah tidak menciptakan mereka agar Ia dengan mereka menjadi banyak setelah sedikit atau agar Ia menjadi mulia dengan mereka setelah hina, tetapi Ia subhaanahuu menciptakan mereka untuk hikmah yang agung dan mulia, yaitu agar mereka menyembah, mengagungkan dan takut kepada-Nya, agar mereka memuji-Nya dengan selayaknya, agar mereka mengetahui berbagai nama dan sifat-Nya dan memuji-Nya dengan berbagai nama dan sifat-Nya, agar mereka mengucapkan dan mengamalkan segala sesuatu yang dicintai Allah, agar mereka bersyukur atas segala nikmat-Nya, bersabar atas segala cobaan yang menimpa mereka, agar mereka berjuang di jalan-Nya, agar mereka merenungkan keagungan-Nya dan agar mereka beramal dengan amalan yang mesti mereka lakukan, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman:
اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. ath-Thalaaq (65): 12)
Maksud dari penciptaan ini, sebagaimana dijelaskan terdahulu, adalah agar Allah diagungkan, ditaati di dunia ini, perintah dan larangan-Nya dimuliakan, hanya Dia subhaanahu yang disembah dengan mentaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, hanya kepada-Nya dalam menyampaikan segala hajat serta ketika dalam musibah, dan hanya kepada-Nya menyampaikan pengaduan, meminta pertolongan, memohon bantuan dalam segala sesuatu dan dalam segala urusan baik urusan dunia maupun akhirat.
Maksud dari penciptaanmu dan pewujudanmu, wahai hamba Allah! Adalah pentauhidan Allah subhaanahuu, pengagungan perintah dan larangan-Nya, hanya kepada-Nya engkau menyampaikan segala hajat, hanya kepada-Nya engkau memohon pertolongan untuk urusan agama dan dunia engkau, mengikuti apa yang disampaikan oleh para rasul-Nya, engkau mentaatinya dengan penuh kesungguhan dan kesadaran, mencintai apa yang diperintahkan-Nya, membenci apa yang dilarang-Nya, engkau mengharap rahmat-Nya, engkau takut siksa-Nya subhaanahuu.
Para rasul diutus kepada para hamba, agar para rasul menyampaikan kepada mereka kebenaran ini, agar para rasul mengajarkan kepada mereka apa yang diwajibkan kepada mereka, apa yang diharamkan kepada mereka, hingga mereka tidak dapat lagi berkata: “Tidak pernah datang kepada kami pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan”. Bahkan sungguh telah datang kepada mereka para rasul yang memberi kabar gembira dan memberi peringatan, sebagaimana Allah subhaanahuu berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaaghuut. (QS. an-Nahl (16): 36)
Dan Allah ta’aalaa berfirman:
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. (QS. an-Nisaa` (4): 165)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (QS. al-`Anbiyaa` (21): 25)
Para rasul diutus agar mengarahkan jin dan manusia untuk sesuatu yang karenanya para rasul diutus (pentauhidan) dan agar mengajarkan mereka sebab-sebab keselamatan serta memberi mereka peringatan tentang sebab-sebab kebinasaan, agar mereka menegakkan hujjah dan memotong berbagai alasan.
Allah subhaanahuu suka dipuji, karena itulah Ia memuji diri-Nya dengan selayaknya, ia sangat cemburu kalau larangan-Nya dilanggar, karenanya Ia mengharamkan segala kekejian, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.
Maka karenanya engkau wajib memuji-Nya dan memuja-Nya dengan yang layak dengan-Nya, bagi-Nya-lah pujian di dunia dan di akhirat, engkau wajib memuji-Nya dengan berbagai nama dan sifat-Nya, engkau wajib bersyukur atas segala nikmat-Nya dan engkau wajib bersabar atas segala cobaan dengan melakukan sebab-sebab yang disyariatkan dan dizinkan oleh Allah. Engkau wajib meninggalkan dan menjauhi segala larangan-Nya dan selalu berada dalam batasan-batasan yang diberikan-Nya, sebagai perwujudan ketaatan kepada-Nya subhaanahuu dan kepada apa yang disampaikan para rasul.
Engkau wajib mempelajari agamamu, engkau wajib mengetahui untuk apa engkau diciptakan, engkau wajib untuk bersabar sehingga engkau melaksanakan kewajiban atas dasar ilmu pengetahuan yang benar.
Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ
Siapa yang yang dikehendaki Allah untuknya kebaikan, Allah akan memberinya pemahaman dalam agama. (HR. Muslim dalam Kitab Shahihnya)
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, dengan perjalanannya itu Allah akan memudahkannya untuk menapaki jalan menuju surga. (HR. Muslim dalam Kitab Shahihnya)
Perintah yang utama dan terpenting adalah pentauhidan Allah subhaanahuu, meninggalkan kesyirikan terhadap Allah ‘azza wa jalla. Ini adalah hal yang paling utama, inilah dasar agama Islam, agama para rasul, ‘alayhimush shalaat was salaam, sejak rasul yang pertama hingga yang terakhir, yaitu pentauhidan Allah dan penunggalan Allah dalam ibadah tanpa dicampuri oleh sesuatu yang lain.
Ini adalah dasar agama, agama para rasul sejak Nuh, rasul pertama, hingga Muhammad, penutup para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam. Allah tidak akan menerima agama apapun selain agama Islam.
Dinamakan agama Islam, karena di dalamnya ada penyerahan diri kepada Allah, perendarahan diri kepada-Nya dan penghambaan diri hanya kepada-Nya serta ketaatan hanya kepada-Nya. Yaitu pentauhidan dan keikhlasan hanya kepada-nya, menyerahkan diri hanya kepada-Nya jalla wa ‘alaa. Pasrahkan dirimu kepada Allah, ikhlaskan amalmu hanya kepada Allah, tujukan hatimu hanya kepada Allah, baik ketika sendirian ataupun bersama orang, dalam rasa takutmu dan rasa harapmu, dalam ucapan maupun perbuatanmu dan dalam segala keadaanmu.
Ketahuilah bahwa Dia adalah ilaah yang hak, yang berhak untuk disembah, ditaati dan diagungkan, tidak ada ilaah dan tidak ada rabb selain Dia. Yang berbeda hanyalah syariat, sebagaimana Allah subhaaanahuu berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Untuk setiap ummat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (QS. al-Maa’idah (5): 48)
Adapun agama Allah hanyalah satu, yaitu agama Islam, agama pengikhlasan ibadah hanya kepada Allah, penunggalan hanya kepada-Nya dalam beribadah, baik berdoa, rasa takut, rasa harap, kepasrahan, keinginan, ketakutan, salat, puasa dan lain sebagainya, sebagaimana Allah subhaanahuu wa bi hamdihii berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ
Dan Tuhan-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia. (QS. al-`Israa` (17): 23)
Allah memerintahkan agar kalian tidak menyembah kecuali hanya kepadanya. Allah subhaanahuu berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (QS. al-Faatihah (1): 5)
Dengan ayat ini Allah mengabarkan kepada hamba-Nya agar mereka mengucapkan dan memahaminya. Allah mengajari mereka cara memuji-Nya dengan firman-Nya yang mulia:
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ * مَـلِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Mahapengasih, Mahapenyayang. Pemilik hari pembalasan. (QS. al-Faatihah (1): 2-4)
Allah mengajari hamba-Nya pujian yang agung ini, kemudian Ia berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ
Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah. (QS. al-Faatihah (1): 5)
Allah subhaanahuu wa ta’aalaa mengajarkan mereka dengan ini agar mereka memuji-Nya dengan yang selayaknya, berupa pujian dan pengakuan bahwasanya Ia adalah Tuhan atau Rabb seluruh alam, yang berbuat baik kepada mereka, yang memelihara mereka dengan berbagai kenikmatan, Dia-lah Yang Mahapengasih, Dia-lah Yang Mahapenyayang, Dia-lah Pemilik hari pembalasan. Semua ini adalah hak Tuhan atau Rabb kita ‘azza wa jalla. Kemudian Ia berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (QS. al-Faatihah (1): 5)
Hanya kepada Engkaulah seorang kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah seorang kami mohon pertolongan, tidak ada rabb dan tidak ada penolong selain Engkau. Segala sesuatu yang terjadi pada hamba semuanya berasal dari Allah, Dia-lah yang menundukkan mereka, Dia-lah yang mempersiapkan untuk mereka, Dia-lah yang menolong semua itu dan Dia-lah yang memberikan kekuatan untuk yang demikian itu, karena itulah Allah jalla wa ‘alaa berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (QS. an-Nahl (16): 53)
Dia-lah Sang Pemberi nikmat, Dia-lah Sang penolong, Dia-lah yang disembah dengan sebenarnya jalla wa ‘alaa.
Maka engkau wahai hamba Allah! Nikmat apapun yang engkau terima dari orang muda atau tua, dari orang kecil atau besar, orang biasa atau orang mulia atau yang lainnya, maka semua itu dari nikmat yang diberikan Allah jalla wa ‘alaa. Dia-lah yang menghantarkan dan memudahkannya, Dia-lah yang menciptakan orang yang mengantarkannya dan menyerahkannya dengan kedua tangannya, Dia-lah yang menggerakkan hatinya untuk menyampaikannya kepadamu, Dia-lah yang memberikan kekuatan, hati dan akal, Dia-lah yang menjadikan sesuatu di dalam hatinya yang membuatnya menyampaikannya kepadamu.
Maka seluruh nikmat berasal dari Allah jalla wa ‘alaa apapun sarana untuk mendapatkannya. Dia-lah yang berhak disembah dengan sebenarnya, Dia-lah Sang Pencipta hamba, Dia-lah Sang pemelihara mereka dengan berbagai kenikmatan dan Dia-lah Sang Hakim di antara mereka di dunia dan akhirat, Dia-lah yang bersifat dengan kesempurnaan, Dia-lah Yang Suci dari segala sifat kekurangan dan tercela. Dia tunggal dalam kerububiyyahan-Nya, esa dalam keuluhiyyahan-Nya, sendiri dalam nama dan sifat-Nya jalla wa ‘alaa. Untuk Allah-lah pentauhidan dari segala segi, hanya milik-Nya-lah ketunggalan dalam mencipta, mengatur dan memberi rezeki hamba dan Dia-lah yang mengurus segala urusan mereka, tidak ada seorangpun yang menyekutui-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa. Ia jalla wa ‘alaa mengatur segala urusan, sebagaimana firman-Nya:
اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Mahapemelihara atas segala sesuatu. (QS. az-Zumar (39): 62)
Dan Allah subhaanahuu berfirman:
إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Sungguh Allah, Dia-lah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. adz-Dzaariyaat (51): 58)
Dan Allah subhaanahuu berfirman:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ * إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
Sesungguhnya tuhan kamu Dia-lah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhan-mu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran. Hanya kepada-Nya kamu semua akan kembali. (QS. Yuunus (10): 3-4)
Dia-lah yang berhak untuk diibadahi karena kesempurnaan nikmat-Nya, karena Dia-lah Sang Pencipta dan Sang Pemberi Rezeki, karena Dia-lah Sang Pengatur dan Sang Pengelola segala urusan, karena Dia-lah yang sempurna dalam zat dan segala nama dan sifat-Nya. Karena itulah Dia-lah yang berhak diibadahi oleh semua makhluk dan Dia-lah yang berhak ketundukkan semua makhluk ditujukan.
Ibadah adalah ketundukan dan kehinaan, agama dinamakan ibadah karena seorang hamba melaksanakannya dengan ketundukan dan kehinaan di hadapan-Nya, karena itulah Islam dinamakan dengan ibadah.
Hamba adalah seorang yang hina dan tunduk kepada Allah, yang mengagungkan segala yang disucikannya. Apabila seorang hamba sempurna pengenalan dan imannya kepada Allah maka akan sempurnalah ibadahnya. Karena itulah para rasul adalah orang-orang yang sempurna ibadahnya disebabkan kesempurnaan pengetahuan, pengenalan dan pengagungan mereka kepada Allah dari selain mereka, shalawaatullaah wa salaamuhuu ‘alayhim.
Karena itulah Allah memberi gelar Nabi-Nya di tempat yang mulia dengan gelar penghambaan (‘ubuudiyyah), Allah subhaanahuu berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ
Mahasuci (Allah) Yang telah memperjalankan Hamba-Nya. (QS. al-`Israa` (16): 1)
Dan Allah ta’aalaa berfirman:
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (al-Qur`an) kepada hamba-Nya. (QS. al-Kahf (18): 1)
Dan Allah ta’aalaa berfirman:
وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوهُ
Dan sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan shalat). (QS. al-Jinn (72): 19)
Dan berbagai ayat lainnya yang menyatakan penghambaannya.
Penghambaan adalah derajat yang agung lagi mulia. Kemudian Allah menambah anugerah untuk para rasul dengan risalah yang dengannya mereka diutus. Maka mereka mendapat dua anugerah, anugerah risalah dan anugerah penghambaan yang istemewa. Manusia-manusia yang paling sempurna ibadah dan ketakwaannya kepada Allah adalah para rasul dan para nabi ‘alayhimush shalaat wa salaam, kemudian diikuti para shiddiiquun, yaitu orang-orang yang sempurna pembenaran mereka kepada Allah dan para rasul-Nya, istiqamah dalam melaksanakan perintah-Nya dan mereka menjadi orang yang terbaik setelah para nabi, orang yang pertama dari mereka adalah `Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu, ia adalah pemimpin para shiddiiquun, yang paling sempurna keshiddiqannya dengan keutamaan dan ketakwaannya serta keterdahuluannya dalam berbuat kebaikan, pelaksanaannya terhadap perintah Allah dengan pelaksanaan yang terbaik, dan karena ia adalah teman dan sahabatnya ketika Nabi berada di dalam goa, dan karena pertolongannya dengan segala kemampuannya dan kekuatan yang ada, semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha.
Maksudnya adalah bahwa derajat penghambaan dan derajat kerasulan keduanya merupakan derajat yang mulia. Maka apabila derajat kerasulan telah habis maka yang tersisa adalah derajat penghambaan dengan ibadah.
Manusia yang paling sempurna keimanan, kebaikan, ketakwaan dan hidayah adalah para rasul dan para nabi ‘alayhimush shalaat was salaam, hal ini disebabkan kesempurnaan pengetahuan dan ibadah mereka terhadap Allah serta karena ketundukan mereka terhadap keagungan Allah jalla wa ‘alaa, kemudian derajat mereka diikuti oleh para shiddiiquun, para syuhada serta orang-orang saleh, sebagaimana firman Allah jalla wa ‘alaa:
وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقًا
Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an-Nisaa` (4): 69)
Pembenaran para rasul harus diikuti dengan pentauhidan Allah. Karena inilah ketika Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad ‘alayhish shalaat was salaam yang pertama dilakukan adalah mengajak manusia agar mentauhidkan Allah dan mengimani bahwa ia adalah Rasul Allah ‘alayhish shalaat was salaam.
Maka dua hal yang harus ada, pentauhidan Allah dan keikhlasan dan tidak boleh tidak harus dikuti dengan pembenaran terhadap para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam.
Siapa yang mentauhidkan Allah tetapi tidak membenarkan para rasul maka ia kafir, siapa membenarkan para rasul tetapi tidak mentauhidkan Allah maka ia kafir. Karenanya harus ada dua hal, pentauhidan Allah dan pembenaran terhadap para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam.
Perbedaan di antara para rasul hanyalah di dalam syariat. Adapun pentauhidan dan keikhlasan terhadap Allah, meninggalkan kesyirikan dan pembenaran terhadap para rasul adalah hal yang tidak ada perbedaan di antara para nabi. Bahkan tidak ada keislaman, tidak ada agama, tidak ada petunjuk, tidak ada keselamatan kecuali dengan pentauhidan Allah ’azza wa jalla, penunggalan ibadah hanya kepada-Nya serta keimanan kepada apa yang disampaikan oleh para rasul-Nya ‘alayhimush shalaat was salaam.
Siapa yang mentauhidkan Allah jalla wa ‘alaa tetapi tidak membenarkan Nuh pada zamannya, atau Ibrahim pada masanya, atau Hud, atau saleh, atau Ismail, atau Ishaq, atau Ya’qub, dan seterusnya hingga Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam maka ia kafir terhadap Allah ‘azza wa jalla hingga ia membenarkan seluruh rasul serta mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla.
Islam pada zaman Adam adalah pentauhidan Allah serta mengikuti syariat Adam ‘alayhish shalaat was salaam, Islam pada masa Nuh adalah pentauhidan Allah serta mengikuti syariat Nuh ‘alayhish shalaat was salaam, Islam ketika Hud adalah pentauhidan Allah serta mengikuti syariat Hud ‘alayhish shalaat was salaam, Islam pada kurun Saleh adalah pentauhidan Allah serta mengikuti syariat Saleh ‘alayhish shalaat was salaam, hingga kedatangan Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam, maka Islam pada masanya adalah pentauhidan Allah serta keimanan dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam serta mengiktui syariatnya.
Orang Yahudi dan Nashrani ketika mereka tidak membenarkan Muhammad ‘alayhish shalaat was salaam mereka kafir dan sesat, meskipun sebagian mereka mentauhidkan Allah, tetapi mereka tetap sesat dan kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslim karena ketiadaan keimanan mereka dengan Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam.
Jika seseorang berkata: Saya hanya menyembah Allah dan saya membenarkan Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam dalam semua apa yang disampaikannya kecuali pengharaman zina, dengan menganggap kebolehan zina, maka dengan ini ia menjadi kafir, halal darah dan hartanya berdasarkan kesepakatan kaum muslim.
Demikian juga jika seseorang berkata bahwa ia mentauhidkan Allah dan hanya menyembah kepada-Nya tidak kepada selain-Nya, bahwa ia membenarkan seluruh rasul dan Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam kecuali tentang pengharaman liwath (homoseks), dengan itu ia menjadi kafir, halal darah dan hartanya, setelah disampaikan kepadanya hujjah, berdasarkan kesepakatan kaum muslim. Pentauhidan dan keimanannya tidak bermanfaat kepadanya karena ia mendustakan rasul dan mendustakan Allah pada sebagian syariat-Nya.
Seperti demikian jika ia mentauhidkan Allah dan membenarkan para rasul tetapi ia mengolok seorang rasul dengan sesuatu yang ringan, atau meremehkan seorang atau sebagian rasul, maka akibat itu ia menjadi kafir, sebagaimana Allah jalla wa ‘alaa berfirman:
قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ * لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Katakanlah: “Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. (QS. at-Tawbah (9): 65-66)
Lawan dari pentauhidan adalah kesyirikan terhadap Allah ‘azza wa jalla. Karena segala sesuatu itu mempunyai lawan dan lawan itu akan menjelaskan tentang lawannya. Seorang penyair mengatakan:
وَالضِّدُّ يُظْهِرُ حُسْنَهُ الضِّدُّ * وَبِضِدِّهَا تَتَمَيَّزُ اْلأَشْيَاءُ
Keindahan sesuatu terlihat dari lawannya
Sesuatu menjadi istemewa setelah dilihat dari lawannya
Kesyirikan terhadap Allah ‘azza wa jalla adalah lawan dari pentauhidan yang karenanya Allah mengutus para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam. Seseorang yang musyrik berarti ia telah menyekutukan, karena ia telah menyekutukan Allah dengan yang lain dalam ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada-Nya, atau telah menyekutukan dengan kekuasaan-Nya dalam mengatur hamba, atau karena ketiadaan pembenaran terhadap apa yang telah dikabarkan atau yang telah disyariatkan. Maka ia menjadi musyrik terhadap Allah.
Pentauhidan Allah ‘azza wa jalla yang merupakan makna dari tidak ada ilaah selain Allah, yaitu bahwasanya tidak ada yang disembah dengan sebenarnya selain Allah, maka pentauhidan ini menolak ibadah yang ditujukan kepada selain Allah dan menetapkan ibadah hanya ditujukan kepada Allah, sebagaimana Allah subhaanahuu berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Tuhan) yang sebenarnya dan apa saja yang mereka seru selain Allah adalah batil. (QS. Luqmaan (31): 30)
Dan Allah ta’aalaa berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah. (QS. Muhammad (47): 19)
Dan Allah subhaanahuu berfirman:
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. `Aalu ‘Imraan (3): 18)
Dan Allah subhaanahuu berfirman:
وَقَالَ اللهُ لاَ تَتَّخِذُواْ إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلهٌ وَاحِدٌ
Dan Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua tuhan, hanyalah Dia Tuhan Yang Mahaesa”. (QS. an-Nahl (16): 51)
Pentauhidan Allah yang merupakan penunggalan tujuan ibadah hanya kepada Allah harus dilaksanakan dengan keimanan, kebenaran dan perbuatan, tidak hanya sekedar di mulut saja, disertai dengan keyakinan ibadah yang ditujukan kepada selain Allah adalah batal dan disertai keyakinan bahwa penyembah selain Allah adalah musyrik serta diikuti dengan berlepas diri dari mereka, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ
Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (QS. al-Mumtahanah (60): 4)
Dan Allah ta’aalaa berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ * إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku, karena sungguh, Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. az-Zukhruf (43): 26-27)
Ibrahim berlepas diri dari para penyembah selain Allah dan berlepas diri dari apa yang mereka sembah.
Maksudnya adalah bahwa pentauhidan Allah dengan menunggalkan ibadah hanya kepada-Nya harus diikuti dengan pelepasan diri dari penyembahan selain Allah dan pelepasan diri dari para penyembah selain Allah serta mesti diikuti dengan keyakinan kebatalan kesyirikan.
Merupakan kewajiban bagi semua hamba, baik jin atapun manusia untuk mengkhususkan ibadah hanya kepada Allah dan menunaikan hak pentauhidan ini dengan berhukum kepada syariat Allah. Karena Allah subhaanahuu wa ta’aalaa adalah hakim. Salah satu pentauhidan adalah keimanan dan pembenaran bahwasanya Allah adalah hakim, Ia adalah hakim di dunia dengan syariat-Nya dan hakim di akhirat dengan Diri-Nya, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ
Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. (QS. al-`An’aam (6): 57)
Dan Allah ta’aalaa berfirman:
فَالْحُكْمُ للهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi, Mahabesar. (QS. Ghaafir (40): 12)
Dan Allah subhaanahuu berfirman:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللهِ
Dan apapun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, keputusannya (terserah) kepada Allah. (QS. asy-Syuuraa (42): 10)
Menujukan sebagian ibadah kepada para wali, para nabi, matahari, bulan, jin, malaikat, berhala, pepohonan atau yang lainnya adalah perusak dan pembatal pentauhidan Allah.
Seperti sudah diketahui bahwa Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para nabi sebelumnya kepada ummat yang menyembah selain Allah, sebagian mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh, sebagian mereka menyembah pepohonan dan bebatuan, sebagian mereka ada yang menyembah planet dan lain sebagainya. Seluruh rasul mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah serta mengimani-Nya dan agar mereka meyakini bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan agar mereka berlepas diri dari hal-hal yang menyelisihinya, dan agar mereka berlepas diri dari para penyembah selain Allah dan dari apa yang mereka sembah, karena orang yang menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah bukanlah orang yang bertauhid, sebagaimana Allah subhaanahuu berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaaghuut. (QS. an-Nahl (16): 36)
Dengan ini diketahui bahwa apa yang dilakukan di sekitar kubur-kubur yang disembah selain Allah, seperti kubur al-Badawi dan al-Husain di Mesir dan yang seumpamanya, dan apa yang dilakukan oleh sebagian jemaah haji yang bodoh dan yang lainnya di sekitar kubur Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berupa permohonan bantuan dan pertolongan melawan musuh, permintaan dan pengaduan kepada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan lain sebagainya, sesungguhnya semua ini adalah peribadatan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, ini adalah kesyirikan kaum jahiliyyah. Seperti demikian juga keyakinan sebagian kaum sufi yang meyakini bahwa sebagian wali dapat melakukan sesuatu di alam ini, dapat mengatur alam ini, ini adalah kesyirikan besar terhadap kerububiyyahan Allah, kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.
Seperti demikian juga yang menjadi keyakinan sebagian orang yang meyakini bahwa sebagian makhluk mempunyai hubungan dengan rabb ‘azza wa jalla, karenanya ia tidak perlu mengikuti Rasul Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam, atau keyakinan bahwa seseorang mengetahui hal yang gaib, atau meyakini bahwa seseorang mampu melakukan sesuatu di alam ini, dan yang seumpamanya. Sesungguhnya ini adalah kekufuran yang besar terhadap Allah dan kesyirikan yang nyata yang mengeluarkan orang yang meyakini tersebut dari agama Islam, jika ia menisbahkan dirinya kepada Islam.
Tidak ada keislaman, tidak ada keimanan, tidak ada keselamatan kecuali dengan menunggalkan tujuan ibadah hanya kepada Allah, dan keimanan bahwa Dia-lah pemilik kerajaan, pengatur segala urusan, bahwa Ia sempurna pada diri, segala sifat, nama dan perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang seumpama dengan-Nya, Dia ‘azza wa jalla tidak dapat dibandingkan dengan ciptaan-Nya. Milik-Nya-lah kesempurnaan yang mutlak pada diri, segala sifat dan perbuatan-Nya. Dia-lah jalla wa ‘alaa pengatur kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang mencampuri hukumnya.
Inilah pentauhidan Allah, inilah penunggalan ibadah hanya kepada Allah, inilah agama para rasul, inilah arti firman-Nya ta’aalaa:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. (QS. al-Faatihah (1): 5)
Artinya Engkaulah yang kami tauhidkan dan hanya kepada Engkau-lah kami taat, hanya kepada Engkaulah kami berharap dan takut, sebagaimana yang dikatakan `Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma: Hanya kepada Engkau seorang kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami berharap dan takut.
Hanya kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan agar kami dapat mentaati-Mu dan dalam segala urusan kami. Ibadah adalah pentauhidan Allah ‘azza wa jalla dan keikhlasan hanya kepada-Nya dalam ketaatan melakukan perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa, disertai keimanan yang sempurna bahwasanya hanya Dia-lah yang berhak diibadahi, keyakinan bahwa Dia-lah pencipta alam, Dia-lah yang mengatur hamba-Nya, Dia-lah pemilik segala sesuatu, Dia-lah pencipta segala sesuatu, disertai keyakinan bahwa Dia sempurna pada diri, segala nama, sifat dan perbuatan-Nya. Disertai keyakinan bahwa Dia tidak mempunyai kekurangan dan keaiban, tidak ada sekutu bagi-Nya pada semua, Mahasuci dan Mahatinggi Dia, bahkan milik-Nya-lah jalla wa ‘alaa kesempurnaan yang mutlak di segala sesuatu.
Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa harus ada pembenaran terhadap para rasul dan seluruh apa yang mereka sampaikan terutama apa yang disampaikan Nabi kita Muhammad ‘alayhish shalaatu was salaam. Sesungguhnya apabila seorang hamba mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah dan membenarkan para rasul-Nya ‘alayhimush shalaatu was salaam terutama Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam, tunduk dan istiqamah terhadap syariatnya tetapi tidak pada satu ajaran, maka itu membatalkan ibadahnya serta tidak bermanfaat amalan Islam lainnya yang telah ia kerjakan.
Jika seseorang membenarkan segala sesuatu yang disampaikan Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan tunduk terhadap semua syariatnya, tetapi ia mengatakan: Musaylamah adalah juga rasul seperti Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam, yaitu Musaylamah Sang Pendusta yang muncul di Yamamah dan diperangi oleh para sahabat di masa `Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu maka batallah akidahnya, hapuslah segala amalnya, tidak bermanfaat untuknya puasa di siang hari, dan beribadah di malam hari serta amal-amal lainnya. Karena ia telah melakukan satu yang merusak keislaman, yaitu ia membenarkan Musaylamah Sang Pendusta, karena yang demikian itu mendustakan firman-Nya ‘azza wa jalla:
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. (QS. al-`Ahzaab (33): 40)
Demikian juga ia telah mendustakan Rasul shallalaahu ‘alayhi wa sallam dalam sabdanya dalam berbagai hadits yang mutawatir yang menyatakan bahwa ia adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi sesudahnya.
Demikian juga seseorang yang berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, ia beribadah hanya menunggalkan untuk Allah semata, ia mengikuti Rasul shallallaahu ‘alayhi wa sallam, kemudian pada suatu waktu ia menujukan sebagian ibadahnya kepada selain Allah, seperti ia tujukan untuk nabi, atau ia tujukan untuk seorang wali, atau ditujukannya untuk satu berhala, matahari, bulan atau untuk planet tertentu dan yang seumpamanya, ia menyeru dan memohon bantuan darinya, maka batallah seluruh amal yang telah dikerjakannya sampai ia kembali bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana Allah ta’aalaa berfirman:
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. al-`An’aam (6): 88)
Dan Allah subhaanahuu berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. (QS. az-Zumar (39): 65)
Seperti demikian juga apabila seseorang mengimani seluruh yang datang dari Allah, membenarkan semua yang diberitakan Allah kecuali tentang zina dengan mengatakan: Zina boleh, atau liwath (homoseks) boleh, atau minuman keras boleh, dengan ini ia menjadi kafir, sekalipun ia mengerjakan semua ajaran yang lainnya. Ini karena ia telah menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan Allah, dengan penghalalannya ini ia telah menjadi kafir kepada Allah dan keluar dari agama Islam (murtad), tidak berguna semua amalnya dan tidak berguna pentauhidannya. Pernyataan ini disepakati oleh seluruh kaum muslimin.
Demikian juga jika ia mengatakan: Sesungguhnya, Nuh, atau Hud, atau Saleh, atau Ibrahim, atau Ismail atau nabi lainnya, bukanlah nabi, maka dengan pernyataannya ini ia telah menjadi kafir kepada Allah, semua amalnya menjadi batal, karena ia telah mendustakan Allah subhaanahuu pada apa yang telah dikabarkan-Nya tentang mereka.
Demikian juga jika ia menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah meskipun ia bertauhid serta ikhlas dan beriman dengan para rasul, seperti dengan mengatakan: Saya tidak menghalalkan unta, atau sapi atau kambing atau yang lainnya yang secara ijma telah dihalalkan oleh Allah. Dan ia mengatakan bahwa semua itu haram, maka dengan pernyataannya itu ia menjadi kafir dan telah keluar dari Islam (murtad) setelah disampaikan kepadanya hujjah, jika ia seorang yang tidak mengetahui yang demikian itu.
Atau mengatakan: Saya tidak menghalalkan gandum atau jelai bahkan keduanya haram, dan berbagai ucapan seperti yang demikian itu, maka ia menjadi kafir. Atau ia mengatakan bahwa boleh mengawini putri sendiri atau saudarinya, maka ia menjadi kafir dan telah keluar dari agama Islam (murtad), meskipun ia shalat, puasa dan mengerjakan seluruh ketaatan lainnya, karena salah satu darinya apabila diingkari maka akan membatalkan agamanya, sebagaimana Allah ta’aalaa berfirman:
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. al-`An’aam (6): 88)
Sekarang kita hidup di mana kebodohan merajalela, ilmu hampir punah, manusia, kecuali orang yang dikehendaki Allah, telah berpaling dari ilmu-ilmu agama dan mengkaji dan memperdalami ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan dunia, maka dangkallah ilmu pengetahuan mereka tentang Allah dan agama-Nya, karena mereka menyibukkan diri dengan ilmu yang memalingkan mereka dari Allah. Maka sekarang kebanyakan pelajaran berhubungan dengan dunia. Adapun pemahaman tentang agama, merenungkan syariat-Nya subhaanahuu, pentauhidan-Nya, kebanyakan orang telah berpaling darinya dan sekarang orang yang memperhatikannya sangat sedikit.
Wahai hamba Allah! Seyogyanya engkau memperhatikan perkara ini, mengkaji, merenungkan dan menekuni kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alayhi wa sallam, hingga engkau mengenal pentauhidan Allah dan mengimaninya, dan hingga engkau mengetahui apa itu kesyirikan terhadap Allah ‘azza wa jalla, hingga engkau mengetahui agamamu dengan mendalam, sampai engkau mengetahui apa saja penyebab yang memasukkan ke surga dan selamat dari neraka. Hal ini dilakukan dengan menghadiri majlis-majlis ilmu pengetahuan dan berdiskusi dengan para ahli ilmu agama sehingga engkau memperoleh manfaat, dan sehingga engkau mengetahui secara mendalam dan terang segala urusan kamu.
Kesyirikan terbagi dua, syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar menafikan pentauhidan Allah dan menafikan keislaman serta menghapus amal. Orang-orang musyrik akan masuk neraka. Setiap perbuatan atau perkataan yang telah dinyatakan bahwa itu kekufuran terhadap Allah, seperti memohon pertolongan kepada yang telah mati atau kepada berhala, atau mengiktikadkan kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah, atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah atau mendustakan sebagian rasul-Nya, maka semua ini membatalkan amal dan menyebabkan seseorang keluar dari Islam (murtad), seperti yang telah dijelaskan terdahulu. Allah ta’aalaa berfirman dalam Surah an-Nisaa`:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar. (QS. an-Nisaa` (4): 48)
Di ayat ini Allah menjelaskan bahwa syirik tidak akan diampuni, kemudian Allah mengkaitkan dosa selain syirik dengan kehendak-Nya, dan perkaranya sesuai kehendak Allah, jika Allah menghendaki Ia akan mengampuninya, jika tidak Ia akan mengazabnya, sesuai maksiat yang dilakukannya sebelum ia mati dan belum bertaubat. Kemudian setelah disucikan di neraka Allah akan mengeluarkannya dan memasukkannya ke dalam surga, ini menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah, ini berbeda dengan pendapat Khawarij, Mu’tazilah dan mereka yang sependapat dengan mereka.
Adapun yang terdapat dalam ayat di Surah az-Zumar, maka itu keumuman dan kemutlakan, Allah subhaanahuu berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Mahapengampun, Mahapenyayang. (QS. az-Zumar (39): 50)
Ulama mengatakan: Ayat ini untuk orang-orang yang bertaubat. Adapun ayat yang terdapat pada Surah an-Nisaa` untuk orang-orang yang tidak bertaubat dari orang yang mati dalam kesyirikan dan terus melakukan berbagai maksiat, yaitu firman Allah subhaanahuu:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. (QS. an-Nisaa` (4): 48)
Adapun orang yang meninggal dalam keadaan berdosa selain syirik, seperti zina dan berbagai maksiat lainnya sedang dia meyakini bahwa semua itu diharamkan dan ia tidak menghalalkannya, tetapi ia berpindah ke akhirat dalam keadaan belum bertaubat, maka ia, menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, berada dalam kehendak Allah (masyi`ah), jika dikehendaki-Nya ia diampuninya, dimasukkannya ke dalam surga karena pentauhidan dan keislamannya, jika dikehendaki-Nya ia disiksanya di neraka sesuai dengan maksiat yang ia belum bertaubat ketika matinya, seperti maksiat zina, meminum minuman keras, durhaka terhadap orang tua, memutuskan tali silaturahmi atau berbagai dosa besar lainnya. Seperti sudah terdahulu penjelasannya.
Adapun Khawarij berpendapat bahwa pelaku maksiat kekal di dalam neraka, karena seseorang yang melakukan maksiat dinyatakan kafir, pendapat ini disepakati oleh Mu’tazilah. Tetapi Ahlus Sunnah wal Jamaah menyelisihi mereka dan berpendapat bahwa pezina, pencuri, pendurhaka dan yang lainnya dari pelaku dosa besar tidaklah kafir dan tidak kekal di neraka selama tidak menghalalkan maksiat tersebut, bahkan mereka berada dalam kehendak Allah, sebagaimana telah dijelaskan dahulu. Ini adalah hal yang penting, seyogyanya diketahui dengan benar dan dipahami dengan baik karena merupakan dasar akidah.
Seorang muslim harus mengetahui hakikat agamanya, mengetahui lawan dari agamanya berupa kesyirikan terhadap Allah, dan harus mengetahui bahwa pintu taubat dari kesyirikan dan berbagai maksiat terus terbuka hingga matahari terbit dari barat. Tetapi musibah yang terbesar yang menimpa adalah kelalaian dari agama Allah, ketidak pahaman terhadap agama, bahkan terkadang seseorang melakukan kesyirikan dan kekufuran terhadap Allah sedang ia tidak memperdulikannya dikarenakan kebodohannya dan sedikit pengetahuannya dengan apa yang disampaikan Rasul shallallaahu ‘alayhi wa sallam berupa hidayah dan agama yang benar.
Perhatikan dirimu wahai orang yang berakal! Peliharalah kesucian-kesucian Allah! Ikhlaslah beramal karena Allah! Segeralah berbuat berbagai kebaikan! Kenalilah agamamu dengan dalilnya! Pahamilah al-Qur`an dan Sunnah dengan mengkaji kitab Allah, dengan menghadiri majlis ilmu dan bersahabat dengan orang yang terpilih agar engkau mengetahui agamamu dengan benar.
Perbanyaklah memohon kepada Tuhan-mu agar ditetapkan dalam hidayah dan kebenaran, kemudian jika engkau melakukan kemaksiatan segeralah bertaubat, sebab seorang manusia selalu melakukan kesalahan, dan manusia yang terbaik adalah manusia yang suka bertaubat, seperti yang disebutkan dalam hadits shahih, karena kemaksiatan adalah kekurangan dalam agama dan kelemahan dalam iman.
Segeralah bertaubat, berhenti dan sesali maksiat, Allah akan menerima orang yang bertaubat, karena Ia subhaanahuu telah berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. an-Nuur (24): 31)
Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya! (QS. at-Tahriim (66): 8)
Taubat merupakan kemestian dan merupakan kelaziman bagi seorang hamba, dan Rasul shallalaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
التَّوْبَةُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا
Taubat menghapus apa-apa (dosa) yang sebelumnya.
Tetaplah selalu bertaubat, apabila engkau melakukan kesalahan segeralah bertaubat dan melakukan kebaikan, jadilah orang yang memahami agamamu, jangan sampai engkau disibukkan duniamu dan melalaikan akhirat, berikan bagiannya masing-masing, untuk dunia, untuk memahami dan mendalami agama, mengkaji agama dan berdiskusi, untuk memberikan perhatian kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul shallallaahu ‘alayhi wa sallam, menghadiri majlis ilmu dan bersahabat dengan orang yang terpilih. Hendaklah bagian untuk agamamu lebih banyak dari yang lainnya, karena ini adalah perkara yang terpenting dari urusanmu dan ini adalah sebab dari keselamatanmu.
Ada lagi syirik yang lain, yaitu syirik kecil, seperti riya, sum’ah pada sebagian amal atau perkataan, dan seperti seseorang yang berkata: Allah dan si anu berkehendak, dan seperti bersumpah dengan yang selain Allah, seperti bersumpah dengan amanah, Ka’bah, nabi dan lain sebagainya yang selain Allah. Semua itu dan yang seumpamanya merupakan syirik kecil. Dan semua itu harus diwaspadai.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَا قَالَ لَهُ رَجُلٌ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ. أَجَعَلْتَنِى للهِ نِدًّا؟ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ.
Ketika seseorang berkata kepada Nabi: Allah dan engkau berkehendak. Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Apakah engkau telah menjadikanku bandingan bagi Allah. Hanya Allah-lah yang berkehendak.
Dan Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
لاَ تقُوْلُوْا: مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، ولَكِنْ قُوْلُوْا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ
Janganlah kalian katakan: Allah dan si anu berkehendak, tetapi katakan: Allah berkehendak kemudian si anu berkehendak.
Dan Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَصْمُتْ
Siapa yang bersumpah, hendaklah bersumpah dengan (nama) Allah, jika tidak diamlah.
Dan ia bersabda:
لاَ تَحْلِفُوْا بِأَبَائِكُمْ وَلاَ بِأُمَّهَاتِكُمْ وَلاَ بِاْلأَنْدَادِ، وَلاَ تَحْلِفُوْا بِاللهِ إِلاَّ وَأَنْتُمْ صَادِقُوْنَ
Janganlah kalian bersumpah dengan (nama) bapak-bapak kamu, atau (nama) ibu-ibu kamu, atau dengan (nama) bandingan-bandingan, janganlah kalian bersumpah dengan (nama) Allah kecuali kalian benar.
Dan ia shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
Siapa yang bersumpah dengan selain (nama) Allah maka sungguh ia telah melakukan kesyirikan.
Dan berbagai hadits shahih lainnya yang berhubungan dengan yang demikian.
Sebagiannya lagi adalah sabdanya shallallaahu ‘alayhi wa sallam:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، فَسُئِلَ عَنْهُ، فَقَالَ: الرِّيَاءُ.
Yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil. Nabi ditanya tentangnya. Nabi menjawab: Riya.
Terkadang riya dapat menjadi kekufuran yang besar, yang demikian jika seseorang masuk Islam dengan riya dan munafiq, ia menampakkan Islam, bukan karena keimanan, dan bukan karena kecintaan, dengan demikian ia menjadi munafiq dan kafir yang besar. Demikian juga jika ia bersumpah dengan selain Allah, dan ia mengagungkan sesuatu yang digunakannya sebagai sumpah seperti ia mengagungkan Allah, atau ia meyakininya mengetahui yang gaib, atau meyakini bahwa sesuatu itu patut untuk disembah bersama Allah subhaanahuu, dengan demikian ia menjadi musyrik dengan kesyirikan yang besar.
Adapun jika bersumpah dengan selain Allah, seperti dengan Ka’bah atau seorang nabi, tanpa meyakini seperti yang tersebut di atas, maka ia menjadi syirik dengan syirik yang kecil.
Saya bermohon kepada Allah ‘azza wa jalla semoga Allah memberikan kita semua pemahaman dan ketetapan dalam agama-Nya, memberi kita rezeki keistiqamahan dalam beragama, memelihara kita dari segala kejahatan diri-diri kita serta perbuatan-perbuatan buruk kita, serta menjaga kita dari fitnah-fitnah yang menyesatkan. Sesungguhnya Ia Mahapemurah, Mahamulia.
Semoga Allah mencurahkan salawat, salam dan keberkahan kepada hamba dan rasul-Nya, nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat, dan para pengikut kebaikan mereka hingga hari agama.

II
TAUHID PARA RASUL
DAN LAWANNYA DARI KEKAFIRAN DAN KESYIRIKAN

Segala puji bagi Allah, rabb pencipta alam, akibat yang baik hanyalah untuk orang-orang yang bertakwa. Salawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu manusia-manusia pertama dan terakhir, terlimpah kepada para nabi dan rasul, seluruh keluarga mereka dan orang-orang yang saleh.
Amma bakdu,
Ketika pentauhidan Allah ‘azza wa jalla serta keimanan terhadapnya dan terhadap para rasul-Nya ‘alayhimush shalaat was salaam adalah kewajiban yang terpenting dan kefardhuan yang terbesar, pengetahuan tentangnya merupakan pengetahuan yang paling mulia dan utama, ketika kebutuhan terhadap penjelasan secara terinci terhadap dasar utama ini sangat mendesak, saya berusaha untuk menjelaskannya dalam beberapa kalimat yang ringkas berikut ini dan juga karena tema ini sangat penting untuk diberi perhatian yang penuh.
Saya bermohon kepada Allah ‘azza wa jalla semoga Allah memberi kita semua taufik untuk mendapatkan kebenaran dalam perkataan dan perbuatan, dan semoga Ia memelihara kita semua dari kesalahan dan ketergelinciran. Kepada Allah subhaanahuu wa ta’aalaa-lah saya memohon pertolongan dan taufiq.
Tidak diragukan lagi bahwa pentauhidan adalah kewajiban yang terpenting dan utama, pentauhidan adalah kefardhuan yang pertama, pentauhidan adalah dakwah pertama para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam, pentauhidan adalah intisari dari dakwah agama ini, seperti yang telah dijelaskan oleh Rabb kita ‘azza wa jalla dalam kitab-Nya yang terang, dan Ia adalah yang paling benar perkataan-Nya dengan firman-Nya tentang para rasul:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaaghuut. (QS. an-Nahl (16): 36)
Allah jalla wa ‘alaa menjelaskan bahwa Ia telah mengutus pada setiap ummat seorang rasul yang mengatakan: Sembahlah Allah dan jauhilah Thaaghuut. Inilah dakwah para rasul, setiap mereka mengatakan: Sembahlah Allah dan jauhilah Thaaghuut. Artinya: Esakan Allah, karena perselisihan antara para rasul dengan ummatnya adalah pada pentauhidan dalam ibadah, karena mereka mengakui bahwa Allah adalah rabb, pencipta dan pemberi rezeki mereka, mereka juga mengetahui banyak tentang nama dan sifat Allah, tetapi perselisihan dan permusuhan, sejak zaman Nuh sampai hari ini adalah pada pentauhidan Allah dalam ibadah. Para rasul mengatakan kepada ummatnya: Ikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, esakan Ia dengan ibadah, tinggalkan ibadah kepada selain-Nya, tetapi musuh para rasul menjawab: Tidak! Bahkan kami menyembah-Nya dan menyembah selain-Nya, kami tidak hanya mengkhususkan-Nya dalam ibadah.
Inilah perselisihan antara para rasul dan ummatnya. Secara umum mereka tidak mengingkari ibadah kepada-Nya, bahkan mereka menyembah-Nya, tetapi permasalahannya adalah apakah ibadah itu dikhususkan atau tidak? Para rasul diutus Allah untuk mengkhususkan rabb dengan ibadah, mengesakan-Nya dalam beribadah tidak untuk yang selain-Nya, karena Ia ‘azza wa jalla adalah Sang Pemilik, Yang kuasa atas segala sesuatu, Sang Pencipta, Sang Pemberi rezeki hamba, Yang mengetahui segala urusan mereka dan lain sebagainya.
Karena itulah para rasul mengajak seluruh ummat untuk mentauhidkan Allah dalam beribadah, mengikhklaskan ibadah hanya kepada-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa serta menginggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini adalah makna firman-Nya ‘azza wa jalla:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaaghuut. (QS. an-Nahl (16): 36)
‘Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhu mengatakan yang searti dengan ini: Ibadah adalah pentauhidan. Demikian juga seluruh ulama mengatakan: Sesungguhnya Ibadah adalah pentauhidan. Karena itulah yang dimaksud. Sedang ummat yang kafir mereka menyembah Allah dan juga menyembah selain-Nya, sebagaimana Allah jalla wa ‘alaa berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ * إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku, karena sungguh, Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. az-Zukhruf (43): 26-27)
Ibrahim berlepas diri dari segala apa yang mereka sembah kecuali yang telah menciptakannya ¬subhaanahuu. Di sini dapat diketahui bahwa mereka menyembah Allah tetapi mereka juga menyembah bersama Allah yang lain-Nya. Karenanya al-Khalil berlepas diri dari segala yang mereka sembah kecuali yang telah menciptakannya ‘azza wa jalla, yaitu Allah subhaanahuu wa ta’aala. Seperti demikian juga firman-Nya ‘azza wa jalla:
وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللهِ وَأَدْعُو رَبِّي
Dan aku akan menjauhkan diri darimu dari apa yang engkau sembah selain Allah dan aku akan berdoa kepada Tuhan-ku. (QS. Maryam (18): 48)
Di sini diketahui bahwa mereka menyembah Allah tetapi mereka juga menyembah selain Allah bersama-Nya. Ayat-ayat yang menjelaskan seperti ini sangat banyak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa maksud dan tujuan dari dakwah para rasul adalah mengkhususkan ibadah kepada Allah dan menunggalkan ibadah kepada-Nya, tidak menyeru kecuali kepada-Nya, tidak meminta pertolonan kecuali kepada-Nya, tidak bernazar kecuali untuk-Nya, tidak menyembelih kecuali karena-Nya, tidak shalat kecuali untuk-Nya dan berbagai ibadah lainnya. Dia-lah jalla wa ‘alaa yang berhak untuk diibadahi tidak yang selain-Nya, inilah makna tidak ada ilaah selain Allah, artinya tidak ada yang diibadahi dan disembah dengan sebenarnya selain Allah.
Inilah maknanya menurut ahli ilmu. Karena tuhan sangat banyak. Orang-orang musyrik sejak dahulu, sejak zaman Nuh, menyembah berbagai tuhan selain Allah, seperti Wadd, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr dan tuhan-tuhan lainnya.
Demikian juga orang-orang Arab mempunyai banyak tuhan, juga orang Persia dan Romawi dan demikian juga yang lainnya. Mereka semua mempunyai banyak tuhan yang disembah bersama Allah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa maksud dari perkataan laa ilaaha illallaah, tidak ada ilaah selain Allah, adalah tujuan dari dakwah para rasul, yaitu dengan arti mengesakan Allah dan mengkhususkan ibadah kepada-Nya tidak yang selain-Nya jalla wa ‘alaa. Karena itulah Allah subhaanahuu berfirman dalam kitab-Nya yang terang:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Tuhan) yang sebenarnya dan apa saja yang mereka seru selain Allah adalah batil. (QS. Luqmaan (31): 30)
Dengan demikian jelaslah bahwa maksudnya adalah pengkhususan Allah dalam beribadah tidak untuk selain-Nya, dan bahwasanya Ia subhaanahu adalah yang berhak diibadahi dan disembah jalla wa ‘alaa. Dan apa yang disembah selain-Nya adalah sesembahan yang batil, karena Allah subhaanahuu wa ta’aalaa berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaaghuut. (QS. an-Nahl (16): 36)
Artinya: Esakan Allah dan jauhi Thaaghuut, maksudnya: Tinggalkan ibadah kepada Thaaghuut dan jauhilah darinya.
Thaaghut adalah setiap yang disembah selain Allah, baik manusia, jin atau malaikat dan benda-benda mati lainnya, selama ia tidak membenci dan rela diperlakuan seperti demikian. Artinya Thaaghuut adalah setiap yang disembah selain Allah dari berbagai benda mati dan lain sebagainya dan ia rela diperlakuan seperti itu, adapun yang tidak rela diperlakukan seperti itu, seperti para malaikat, para nabi dan orang-orang saleh, maka mereka bukan Thaaghuut. Kesimpulannya adalah Thaaghuut adalah setan yang mengajak manusia untuk menyembahnya dan menghiasinya di hadapan manusia.
Maka para rasul, para nabi dan para malaikat dan setiap orang saleh yang selamanya tidak rela disembah selain Allah, bahkan mengingkari dan memeranginya maka bukanlah Thaaghuut, Thaaghuut hanyalah setiap yang disembah selain Allah dan ia rela disembah, seperti Fir’aun, Iblis dan yang seumpamanya dari apa-apa yang menyeru kepadanya dan rela, demikian juga disebut Thaaghuut bebatuan dan berhala yang disembah selain Allah, semua itu dinamakan Thaaghuut sebab mereka disembah selain Allah. Karena itulah Allah subhaanahuu wa ta’aalaa berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (QS. al-`Anbiyaa` (21): 25)
Dalam ayat ini, seperti ayat yang terdahulu, Allah subhaanahuu menjelaskan bahwa dakwah para rasul adalah dakwah pentauhidan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya jalla wa ‘alaa semata tidak kepada selain-Nya. Jika sekiranya cukup ucapan laa ilaah illallaah saja tanpa pengkhususan ibadah hanya kepada Allah dan tanpa keimanan bahwasanya Ia-lah yang berhak diibadahi, tentu ummatnya tidak akan menolaknya. Tetapi orang-orang musyrik mengetahui bahwa ucapan laa ilaaha illallaah itu membatalkan semua tuhan mereka, dan bahwa ucapan laa ilaah illallaah itu menuntut bahwasanya Allah jalla wa ‘alaa yang disembah dengan sebenarnya dan yang dikhususkan dengannya. Karena itulah mereka mengingkari, memusuhi dan enggan menerimanya, jadi dengan ini jelaslah bahwa maksud laa ialaah illallaah itu mengkhususkan ibadah hanya kepada Allah dan menunggalkan hanya untuk-Nya tidak segala sesuatu yang selain-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa, baik para nabi, para malaikat, orang-orang saleh, jin atau yang lainnya, karena Allah subhaanahuu Dia-lah Sang Pemilik, Sang Pemberi rezeki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Sang Pencipta segala sesuatu, Yang mengatur seluruh urusan hamba, Dia-lah jalla wa ‘alaa yang berhak untuk disembah, Dia-lah subhaanahuu wa ta’aalaa Yang mengetahui semua keadaan hamba-Nya. Karena itulah Ia mengutus para rasul untuk mengajak manusia mentauhidkan dan ikhlas kepada-Nya, untuk menjelaskan segala nama dan sifat-Nya, menjelaskan bahwa Dia-lah yang berhak disembah dan diagungkan, karena kesempurnaan ilmu-Nya, kesempurnaan kekuasaan-Nya, kesempurnaan segala nama dan sifat-Nya, menjelaskan bahwa Dia-lah ‘azza wa jalla yang memberi manfaat dan mudarat, yang mengetahui seluruh keadaan hamba-Nya, yang mendengar doa mereka, yang mencukupkan kebaikan-kebaikan mereka, menjelaskan bahwa Dia-lah jalla wa ‘alaa yang berhak untuk disembah tidak yang selain-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa. Allah subhaanahuu telah menceritakan tentang Nuh, Hud, Shalih dan Syu’aib ‘alayhimush shalaat was salaam bahwa mereka telah mengatakan kepada kaum mereka:
اعْبُدُواْ اللهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ
Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. (QS. Huud (11): 50)
Ini sesuai dengan firman-Nya ta’aalaa:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaaghuut. (QS. an-Nahl (16): 36)
Kaum Nabi Hud ‘alayhish shalaat was salaam menjawab dengan perkataan mereka:
قَالُواْ أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
Mereka berkata, “Apakah kedatanganmu kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka buktikan ancamanmu kepada kami, jika kamu benar!” (QS. al-`A’raaf (7): 70)
Mereka mengetahui dan memahami bahwa dakwah dan ajakan Hud ‘alayhish shalaat was salaam menuntut pengikhlasan ibadah hanya kepada Allah semata dan menghentikan serta meninggalkan penyembahan berhala-berhala yang disembah selain-Nya, karena itu mereka berkata:
قَالُواْ أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
Mereka berkata, “Apakah kedatanganmu kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka buktikan ancamanmu kepada kami, jika kamu benar!” (QS. al-`A’raaf (7): 70)
Karenanya mereka tetap keras kepala dan mendustakannya hingga turun azab kepada mereka. Kita bermohon kepada Allah keafiatan.
Allah subhaanahuu telah menurunkan berbagai kitab dan para rasul agar hanya Ia disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan untuk menjelaskan hak Allah terhadap hamba-Nya, untuk mengingatkan bagaimana Allah subhaanahuu digambarkan atau dicitrakan, berupa nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar mereka mengetahui dan mengenal-Nya dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, kebesaran kebaikan-Nya, kesempurnaan kekuasaan-Nya dan keliputan ilmu-Nya jalla wa ‘alaa. Yang demikian karena tauhid rububiyyah adalah dasar dari tauhid uluhiyyah dan tauhid ibadah. Karena itulah diutus para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam dan diturunkan berbagai kitab dari langit dari Allah ‘azza wa jalla untuk menjelaskan berbagai sifat dan nama-Nya, kebesaran kebaikan-Nya dan untuk menjelaskan hak-Nya jalla wa ‘alaa untuk diagungkan, diseru dan dimintai pertolongan, sehingga ummat manusia tunduk untuk beribadah kepada-Nya dan mentaati-Nya, sehingga mereka kembali kepada-Nya, sehingga mereka hanya menyembah kepada-Nya tidak kepada selain-Nya jalla wa ‘alaa. Semua penjelasan ini sangat banyak terdapat dalam kitab Allah ‘azza wa jalla. Tentang itu Allah subhaanahuu wa ta’aalaa telah menceritakan banyak tentang para rasul-Nya ‘alayhimus salaam, Ia berfirman:
قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
Rasul-rasul mereka berkata. “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan Bumi? (QS. `Ibraahiim (14): 10)
Allah jalla wa ‘alaa berfirman:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللهِ فَعَلَى اللهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُواْ أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءكُمْ ثُمَّ لاَ يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُواْ إِلَيَّ وَلاَ تُنظِرُونِ * فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ *
Dan bacakanlah kepada mereka berita penting (tentang) Nuh ketika (dia) berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Jika terasa berat bagimu aku tinggal (bersamamu) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepa Allah-lah aku bertawakkal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi. Maka jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta imbalan sedikitpun darimu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Allah, dan aku diperintah agar aku termasuk golongan orang-orang muslim (berserah diri).” (QS. Yuunus (10): 71-72)
Ia ‘alayhish shalaat was salaam menjelaskan bahwa ia bergantung kepada Allah, bahwa ia bertawakkal kepada-Nya jalla wa ‘alaa, bahwa ia tidak peduli dengan ancaman dan teror mereka, bahwa ia mesti menyampaikan risalah Allah. Sungguh ia ‘alayhish shalaat was salaam telah menyampaikannya dengan kesungguhan, ia telah menyampaikan dan mengenalkan kepada mereka kekuasaan dan keagungan rabbnya, bahwa Ia meliputi segalanya, Ia mampu menyelamatkannya dan mampu membinasakan musuh-musuh-Nya, sebagaimana Ia mampu memelihara para rasul dan nabi-Nya, dan meliputi mereka dengan pemeliharaan-Nya, menolong mereka dalam menyampaikan petunjuk yang mereka ajarkan. Tentang semua ini Ia menurunkan satu surah yang berhubungan dengan Nuh ‘alayhish shalaat was salaam dengan firman-Nya jalla wa ‘alaa:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ * قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ * أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ * يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللهِ إِذَا جَاء لاَ يُؤَخَّرُ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَارًا * فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلاَّ فِرَارًا * وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا * ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا * ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا * فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا * مَّا لَكُمْ لا تَرْجُوْنَ للهِ وَقَارًا * وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا *
Dengan nama Allah Yang Mahapengasih, Mahapenyayang. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertawakkallah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai pada batas waktu yang ditentukan. Sungguh, ketetapan Allah itu apabila telah datang tidak dapat ditunda, seandainya kamu mengetahui.” Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam, maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhan-Mu, sungguh, Dia Mahapengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian). (QS. Nuuh (71): 1-14)
Allah subhaanahuu melalui lidah Nabi-Nya Nuh ‘alayhish shalaat was salaam menjelaskan sifat-siat-Nya ‘azza wa jalla, Dia-lah yang memberikan segala sesuatu kepada mereka, berupa berbagai rezeki, kebaikan yang banyak, kenikmatan yang besar, dan bahwa Dia-lah yang berhak untuk disembah, ditaati dan diagungkan jalla wa ‘alaa.
Allah berfirman tentang Hud ‘alayhish shalaat was salaam dan kaumnya dalam Surah asy-Syu’araa`:
كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ * إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلاَ تَتَّقُونَ * إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ * فَاتَّقُوا اللهَ وَأَطِيعُونِ * وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ * أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ * وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ * وَإِذَا بَطَشْتُم بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ * فَاتَّقُوا اللهَ وَأَطِيعُونِ * وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُم بِمَا تَعْلَمُونَ * أَمَدَّكُم بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ * وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ *
(Kaum) ‘Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam. Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati, dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu lakukan secara kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan tetaplah kamu bertakwa kepada-Nya yang telah menganugerakan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia (Allah) telah menganugerahkan kepadamu hewan ternak dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar. (QS. asy-Syu’araa` (26): 123-135)
Melalui lidah nabi mereka Hud ‘alayhish shalaat was salaam Allah jalla wa ‘alaa telah menjelaskan berbagai nikmat yang telah Allah jalla wa ‘alaa berikan kepada mereka, Dia-lah rabb kesemuanya, dan bahwa kewajiban mereka adalah tunduk kepada-Nya, taat serta membenarkan rasul-Nya. Tetapi mereka enggan dan menyombongkan diri, maka Allah menurunkan angin yang membinasakan untuk mengazab mereka.
Tentang Saleh ‘alayhis salaam Allah berfirman:
كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ * إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلاَ تَتَّقُونَ * إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ * فَاتَّقُوا اللهَ وَأَطِيعُونِ * وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ * أَتُتْرَكُونَ فِي مَا هَاهُنَا آمِنِينَ * فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * وَزُرُوعٍ وَنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيمٌ * وَتَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا فَارِهِينَ * فَاتَّقُوا اللهَ وَأَطِيعُونِ * وَلاَ تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ * الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ يُصْلِحُونَ *
Kaum Tsamud telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Shaleh berkata, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sungguh aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta sesuatu imbalan kepadamu atas ajakan itu, imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam. Apakah kamu (mengira) akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kamu ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun dan mata air, dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. Dan kamu pahat dengan terampil sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan. (QS. asy-Syu’araa` (26): 141-152)
Shaleh ‘alayhish shalat was salaam menjelaskan apa-apa yang berhubungan dengan Allah, bahwasanya Ia rabb sekalian alam, Dia-lah yang telah memberikan kepada mereka berbagai kenikmatan. Maka kewajiban mereka adalah kembali kepada-Nya dan membenarkan Shaleh yang merupakan rasul-Nya, mentaati apa yang disampaikannya, jangan mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas yang membuat kerusakan di muka bumi. Tetapi mereka tidak peduli dengan nasihat ini, tidak peduli dengan arahan ini, bahkan mereka tetap keras kepala, tetap dalam kesesatan dan kekufuran mereka sehingga Allah membinasakan mereka dengan gempa dan hujan batu kerikil. Kita bermohon keafiatan kepada Allah.
Allah subhaanahuu wa ta’aalaa juga menyebutkan tentang Khalil-Nya, yaitu Ibrahim ‘alayhish shalaat was salaam yang menceritakan tentang sebagian sifat-Nya ‘azza wa jalla dan ia menceritakannya kepada kaumnya agar mereka kembali (taubat) kepada Allah, menyembah dan mengagungkan-Nya, sebagaimana firman-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa dalam Surah asy-Syu’araa`:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ * إِذْ قَالَ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ * قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ * قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ * أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ *
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayah dan kaumnya. “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.” Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?” (QS. asy-Syu’araa` (26): 69-73)
Jika ingin memahami seharusnya berhenti di ujung ayat ini, karena sesungguhnya Allah subhaanahuu dengan ayat ini menjelaskan bahwa berhala-berhala itu tidak patut diibadahi, karena tidak dapat mendengar, tidak dapat mengabulkan orang yang berdoa kepadanya, tidak dapat memberi manfaat dan mudarat, sebab ia benda mati yang tidak dapat merasakan dan tidak mengetahui keperluan dan permintaan orang yang berdoa kepadanya, serta tidak mengetahui kebutuhan mereka, bagaimana mereka dijadikan seruan selain Allah. Karena itulah Allah berfirman:
قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ * أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ *
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?” (QS. asy-Syu’araa` (26): 72-73)
Apa jawaban mereka? Mereka kebingungan dan menyimpang dalam menjawabnya, karena mereka mengetahui bahwa tuhan-tuhan ini tidak dapat memberi manfaat dan tidak dapat memberi mudarat, tidak dapat mendengar dan tidak dapat mengabulkan orang yang berdoa kepadanya. Karena itulah mereka menjawab:
قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ
Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu.” (QS. asy-Syu’araa` (26): 74)
Mereka tidak menjawab: Sesungguhnya berhala-berhala itu dapat mendengar, memberi manfaat dan memberi mudarat, tetapi jawaban mereka menyimpang dan memberikan jawaban yang menunjukkan kebingungan dan keraguan mereka, bahkan pengakuan mereka bahwa tuhan-tuhan ini tidak patut diibadahi, karenanya mereka menjawab:
قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ
Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu.” (QS. asy-Syu’araa` (26): 74)
Artinya: kami mengikuti cara hidup mereka tanpa memperhatikan apa yang engkau jelaskan kepada kami, jawaban yang seperti ini ditemukan pada firman Allah pada ayat yang lain:
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. az-Zukhruf (43): 23)
Inilah jalan hidup mereka yang buruk dan terlaknat, yang mereka jalani dan tapaki dan mereka jadikan dasar. Kita bermohon kepada Allah keselamatan. Kemudian al-Khalil ¬‘alayhis salaam mengatakan kepada mereka:
قَالَ أَفَرَأَيْتُم مَّا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ * أَنتُمْ وَآبَاؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ * فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّ رَبَّ الْعَالَمِينَ
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya Tuhan seluruh alam.” (QS. asy-Syu’araa` (26): 75-77)
Maksudnya adalah berhala-berhala yang mereka sembah itu, karena itu ia berkata:
فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّ رَبَّ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya Tuhan seluruh alam.” (QS. asy-Syu’araa` (26): 75-77)
Maka perkataannya:
إِلاَّ رَبَّ الْعَالَمِينَ
lain halnya Tuhan seluruh alam.” (QS. asy-Syu’araa` (26): 75-77)
menunjukkan kepada kita bahwa ia ‘alayhish shalaat was salaam mengetahui bahwa mereka menyembah Allah dan menyembah selain-Nya, karena itu ia mengecualikan Rabb-nya dengan mengatakan:
إِلاَّ رَبَّ الْعَالَمِينَ
lain halnya Tuhan seluruh alam.” (QS. asy-Syu’araa` (26): 75-77)
Juga seperti yang disebutkan di ayat lain:
إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي
Kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku. (QS. az-Zukhruf (43): 26-27)
Dengan demikian diketahui bahwa orang-orang musyrik itu menyembah Allah tetapi juga mereka menyembah bersama Allah selain-Nya. Perselisihan antara para rasul dan kaumnya adalah dalam pengkhususan ibadah hanya kepada Allah dan menunggalkan ibadah hanya kepada-Nya, tidak kepada selain-Nya jalla wa ‘alaa.
Kemudian setelah itu ia menjelaskan sifat Rabb:
الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ * وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ * وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ * وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ *
(yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). (QS. asy-Syu’araa` (26) 78-81)
Ini adalah berbagai perbuatan Allah, menyembuhkan orang sakit, mematikan dan menghidupkan kembali, memberi makan dan minum, memberi petunjuk orang yang dikehendakinya, Dia-lah Sang pencipta yang berkuasa untuk memberikan pengampunan dosa dan menutupi segala aib dan cela, karena itu Ia jalla wa ‘alaa berhak untuk diibadahi dan disembah hamba-Nya dan batallah peribadahan kepada selain-Nya, karena yang selain-Nya tidak dapat menciptakan dan tidak dapat memberi rezeki, tidak dapat sedikitpun mengabulkan dan memperkenankan kepada orang yang berdoa kepadanya, tidak dapat memberikan manfaat atau mudarat, sebagaimana Allah subhaanahuu berfirman:
ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ * إِن تَدْعُوهُمْ لاَ يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ
Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhan-mu, milik-Nya-lah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu. (QS. Faathir (35): 13-14)
Allah menjelaskan kelemahan tuhan-tuhan mereka dan menjelaskan bahwa menyeru mereka adalah kesyirikan terhadap Allah ‘azza wa jalla, karena itu Ia berfirman:
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ
Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu. (QS. Faathir (35): 13-14)
Allah subhaanahuu menjelaskan kelemahan seluruh tuhan, dan menjelaskan bahwa dengan penyeruan kepada mereka merupakan pensyarikatan atau penyekutuan terhadap Allah ‘azza wa jalla, di sini Ibrahim berkata:
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
Dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat. (QS. asy-Syu’araa` (26): 82)
Artinya: Aku sangat menginginkan bahwa Ia subhaanahuu mengampuni kesalahanku di hari kiamat, karena Dia-lah jalla wa ‘alaa yang memberi manfaat di dunia dan yang menyelamatkan di akhirat, adapun berhala-berhala itu tidak dapat memberi manfaat di dunia dan tidak juga di akhirat, bahkan mereka memberi mudarat, karena itu Allah berfirman tentang Khalil-Nya:
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ * رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ * وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي اْلآخِرِينَ * وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ *
Dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat. (Ibrahim berdoa), “Ya Tuhan-ku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. (QS. asy-Syu’araa` (26): 82-85)
Semua ini menunjukkan keimanan terhadap akhirat dan mengajak kepadanya serta memberi peringatan kepada hamba-Nya tentang keberadaan akhirat yang kita semua mesti mendatanginya, dan memberi peringatan bahwa akan ada pembalasan, karenanya Ia berfirman sesudahnya:
وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ * وَاغْفِرْ لأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS. asy-Syu’araa` (26): 85-86)
Ibrahim mendoakan keampunan bagi ayahnya sebelum ia mengetahui keadaan ayahnya, ketika ia mengetahuinya maka ia berlepas diri darinya, seperti firman Allah dalam Surah al-‘Ankabuut:
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ لاَ يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ *
Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, “Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah hanyalah berhala-berhala dan kamu membuat kebohongan. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (QS. al-‘Ankabuut (26): 16-17)
Ibrahim ‘alayhish shalaat was salaam menjelaskan kepada mereka bahwa ibadah adalah hak Allah, dan wajib bertakwa dan beribadah kepada-Nya, dan menjelaskan bahwa apa-apa yang mereka lakukan adalah kebohongan yang tidak ada dasarnya, serta menjelaskan bahwa segala sesembahan mereka selamanya tidak dapat memberikan mereka rezeki, sebagaimana berhala-berhala itu tidak dapat memberi mereka manfaat atau mudarat, bahkan berhala-berhala itu tidak dapat memberi rezeki untuk diri berhala-berhala itu sendiri, karena itu Ibrahim berkata:
فَابْتَغُوا عِندَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ
Maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia. (QS. al-‘Ankabuut (26): 17)
Allah-lah subhaanahuu yang disembah dan tempat memohon rezeki jalla wa ‘alaa tidak kepada apapun selain-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa.
وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ *
Dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (QS. al-‘Ankabuut (26): 16-17)
Kepada-Nya-lah mereka dikembalikan, Ia subhaanahuu pemilik segala sesuatu, yang menguasai segala sesuatu, Dia-lah yang berhak disyukuri karena kesempurnaan nikmat dan kebaikan-Nya, kepada-Nya-lah tempat memohon rezeki jalla wa ‘alaa, karena itulah Ia berfirman di ayat-ayat lain:
إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Sungguh Allah, Dia-lah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. adz-Dzaariyaat (51): 58)
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lawh Mahfuzh). (QS. Huud (11): 6)
Di dalam kitab Allah sangat banyak ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhaanahuu memerintahkan para rasul agar mengarahkan ummatnya untuk menyembah Allah, memerintahkan para rasul untuk mengenalkan kepada mereka pencipta, pemberi rezeki dan tuhan mereka. Siapa yang mempelajari al-Qur`an ia akan menemukannya dengan jelas. Para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam adalah orang yang paling fasih dan paling mengenal Tuhan-nya dan paling tinggi semangat dan usahanya untuk mendakwahkannya, tidak ada orang yang sesabar mereka dalam berdakwah dan tidak ada yang seberpengetahuan tentang Allah seperti mereka, tidak ada yang paling menginginkan agar ummatnya mendapat hidayah selain dari mereka ‘alayhimush shalaat was salaam. Karena itu mereka menyampaikan risalah Tuhan-nya dengan sempurna, mereka menjelaskan kepada manusia sifat Sang pencipta yang disembah, nama-nama-Nya subhaanahuu dan perbuatan-Nya. Mereka menjelaskannya secara terperinci agar ummatnya mengenal Tuhan mereka, agar mereka mengenal nama-nama, sifat-sifat-Nya dan kebesaran hak-Nya atas hamba-Nya, sehingga mereka kembali (bertaubat) kepada Allah berdasarkan pengetahuan yang mantap. Tentang hal ini sebagaimana firman Allah tentang Musa ‘alayhish shalaat was salaam:
وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ * قَوْمَ فِرْعَوْنَ أَلاَ يَتَّقُونَ * قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَن يُكَذِّبُونِ * وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلاَ يَنطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ * وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنبٌ فَأَخَافُ أَن يَقْتُلُونِ * قَالَ كَلاَّ فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُم مُّسْتَمِعُونَ * فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولاَ إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ *
Dan (ingatlah) ketika Tuhan-Mu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Fir’aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?” Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhan-ku, sungguh, aku takut mereka akan mendustakan aku, sehingga dadaku terasa sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah Harun (bersamaku). Sebab aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.” (Allah) berfirman, “Jangan takut (mereka tidak akan membunuhmu)! Maka pergilah kamu bedua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat), sungguh, Kami bersamamu mendengarkan (apa yang mereka katakan), maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakan, “Sesungguhnya kami adalah rasul-rasul Tuhan seluruh alam.” (QS. asy-Syu’araa` (26): 10-16)
Allah memerintahkan Musa agar menjelaskan kepada Fir’aun bahwa ia adalah rasul Tuhan sekalian alam, semoga Fir’aun menyadari dan mau menerima serta kembali kepada kebenaran, tetapi Fir’aun tidak menyadari dan tidak menerima bahkan ia berpaling dan menentangnya, dan ia berkata kepada Musa:
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ * وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنتَ مِنَ الْكَافِرِينَ * قَالَ فَعَلْتُهَا إِذًا وَأَنَا مِنَ الضَّالِّينَ * فَفَرَرْتُ مِنكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ * وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ أَنْ عَبَّدتَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ * قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ * قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إن كُنتُم مُّوقِنِينَ * قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلاَ تَسْتَمِعُونَ * قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ اْلأَوَّلِينَ * قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ * قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ *
Dia (Fir’aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan dari) perbuatan yang telah engkau lakukan dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.” Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya, dan ketika itu aku termasuk orang yang khilaf. Lalu aku lari darimu karena aku takut kepadamu, kemudian Tuhan-ku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang rasul di antara rasul-rasul. Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) itu engkau memperbudak Bani Israil.” Fir’aun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam itu?” Dia (Musa) menjawab, “Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhan-mu), jika kamu mempercayai-Nya. Dia (Fir’aun) berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar (apa yang dikatakannya)?” Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhan-mu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.” dia (Fir’aun) berkata, “Sungguh, rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.” Dia (Musa) berkata, “(Dia-lah) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu mengerti.” (QS. asy-Syu’araa` (26): 18-28)
Perhatikan bagaimana Musa ‘alayhish shalaat was salaam menjelaskan kepada Fir’aun tentang sifat-sifat Rabb ‘azza wa jalla, bahwasanya Ia Rabb seluruh alam, Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb seluruh makhluk, Rabb timur dan barat, agar musuh Allah tersebut mengetahui sifat-sifat ini dengan tujuan agar ia kembali dan menerima kebenaran, tetapi, telah terdapat dalam ilmu Allah, ia tetap dalam kedurhakaan dan kesesatan, dan ia mati dalam kekufuran dan penentangan. Kita bermohon kepada Allah keafiatan.
Allah subhaanahuu wa ta’aalaa menjelaskan kepada Harun dan Musa bahwa Ia bersama mereka mendengar dan melihat, bahwasanya Ia memelihara, menolong serta memperkuat mereka, karenanya mereka berani mendakwahi orang yang keras, penentang, sombong, arogan yang berkata:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ اْلأَعْلَى
(Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. an-Naazi’aat (79): 24)
Allah memelihara dan menjaga keduanya, Harun dan Musa, dari kejahatan dan tipu dayanya.
Tidak diragukan lagi bahwa semua ini merupakan perhatian dan pemeliharaan Allah kepada para rasul dan nabi-Nya ‘alayhimush shalaat was salaam, seorang yang sombong lagi pendurhaka, seorang raja yang terkutuk dan mengaku ia adalah tuhan seluruh alam, keduanya, Harun dan Musa, mendakwahinya dan menjelaskan hak Allah kepadanya, menjelaskan bahwa kewajibannya adalah agar ia kembali dan bertaubat kepada Allah, tetapi ia enggan dan menyombongkan diri serta mengumpulkan para penyihir. Hingga Allah membatalkan tipu dayanya dan menampakkan kelemahannya, dan Ia menolong Musa dan Harun ‘alayhimash shalaat was salaam dari Fir’aun dan para penyihirnya. Karena terus dalam kedurhakaan Allah menenggelamkannya serta bala tentaranya di dalam laut dan Allah menyelamatkan Musa, Harun dan Bangsa Israil yang bersama keduanya.
Ini adalah ayat-ayat (tanda-tanda) Allah yang nyata dalam membalas musuh-musuh-Nya, dan pertolongan-Nya kepada para wali-Nya. Dua orang yang tidak mempunyai kelompok kecuali orang-orang yang diperbudak oleh Fir’aun, yang dibunuh oleh Fir’aun anak-anak lelaki mereka serta dibiarkannya hidup anak-anak perempuan mereka, serta ditimpakannya kepada mereka siksa yang sangat buruk. Harun dan Musa mendakwahi raja yang keras dan menjelaskan kebenaran kepadanya dan mengingkari kebatilan yang dilakukannya, Allah memelihara mereka berdua dari kezaliman dan kekerasan tindakan Fir’aun, bahkan Allah jalla wa ‘alaa memperkokoh dan menguatkan keduanya. Dan ia menunjukkan hujjah kepadanya, karenanya pada ayat lain ia berkata:
قَالَ فَمَن رَّبُّكُمَا يَا مُوسَى * قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى * قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ اْلأُولَى * قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لاَ يَضِلُّ رَبِّي وَلاَ يَنسَى * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلاً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّن نَّبَاتٍ شَتَّى * كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لأُوْلِي النُّهَى * مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى *
Dia (Fir’aun) berkata, “Siapakah Tuhan-mu berdua, wahai Musa?” Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” Dia (Fir’aun) berkata, “Jadi bagaimana keadaan ummat-ummat terdahulu?” Dia (Musa) menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhan-ku di dalam sebuah kitab (Lawh Mahfuzh), Tuhan-ku tidak akan salah ataupun lupa; (Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit.” Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan. Makanlah dan gembalakan hewan-hewanmu. Sungguh, pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain. (QS. Thaahaa (20): 49-55)
Maksudnya adalah bahwa para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam menjelaskan dan menerangkan kebenaran, menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat rabb yang menunjukkan kekuasaan yang besar dan keberhakan untuk diibadahi, menerangkan bahwasanya Ia adalah Sang pencipta, Sang pemilik, Sang pemberi rezeki, Sang penghidup, Sang pewafat, Sang pengatur segala sesuatu jalla wa ‘alaa. Dan juga menjelaskan ketinggian dan keteratasan Allah dari makhluk-Nya. Karena itu Fir’aun berkata kepada menterinya, Haman:
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَّعَلِّي أَبْلُغُ اْلأَسْبَابَ * أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ فِي تَبَابٍ
Dn Fir’aun berkata, “Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhan-nya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta.” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir’aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar), dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (QS. Ghaafir (40): 36-37)
Ia menceritakan bahwa Allah jalla wa ‘alaa atas langit, karenanya si keras kepala ini menyombongkan diri dengan kata-kata buruk yang tak bernilai ini. Tentang hal yang demikian Allah jalla wa ‘alaa menceritakan tentang Isa ‘alayhish shalaat was salaam dan para penolongnya (hawariy) dalam Surah al-Maa`idah dengan firman-Nya subhaanahuu:
إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاء قَالَ اتَّقُواْ اللهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ * قَالُواْ نُرِيدُ أَن نَّأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَن قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ * قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاء تَكُونُ لَنَا عِيداً لأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنكَ وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ * قَالَ اللهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَن يَكْفُرْ بَعْدُ مِنكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لاَّ أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ *
(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, “Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhan-mu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.” Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu agar tenteram hati kami dan agar kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan (hidangan itu).” Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi keuasaan Engkau, berilah kami rezeki, dan Engkau-lah sebaik-baik pemberi rezeki.” Allah berfirman, “Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tetapi barang siapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara ummat manusia (seluruh alam).” (QS. al-Maa`idah (5): 112-115)
Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang kekuasaan Allah jalla wa ‘alaa, penjelasan bahwa Ia subhaanahuu yang menguasai segala sesuatu, bahwasanya Ia di ketinggian (‘uluww), karena penurunan hidangan terjadi dari atas ke bawah. Maka penurunan hidangan dan permintaan penurunannya merupakan dalil bahwa ummat terdahulu mengetahui bahwa Rabb mereka di ketinggian, bahkan mereka lebih mengetahui dan mengenal Allah daripada kaum Jahmiyyah dan yang seumpamanya yang mengingkari ketinggian Allah, orang-orang Hawari meminta yang demikian, Isa juga menjelaskan kepada mereka yang demikian, serta Allah juga menjelaskan seperti demikian, karena itu Ia berfirman:
إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ
“Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu.” (QS. al-Maa`idah (5): 115)
Ini menunjukkan bahwa Rabb kita diminta dari ketinggian, dan bahwa Ia subhaanahuu wa ta’aalaa di ketinggian, atas langit, atas semua makhluk-Nya, atas arasy, Ia beristiwa (bersemayam) dengan istiwa (persemayaman) yang layak dengan keagungan dan kebesaran-Nya, sedikitpun tidak ada makhluk-Nya yang menyerupai sifat-sifat-Nya jalla wa ‘alaa.
Sangat banyak sekali ayat yang dengan jelas dan terang menunjukkan ketinggian Allah subhaanahuu wa ta’aalaa atas makhluk-Nya. Sebagiannya adalah tujuh ayat yang terkenal tentang persemayaman (istiwa), seperti yang terdapat dalam firman-Nya -subhaanahuu dalam Surah al-`A’raaf:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ *
Sungguh, Tuhan-mu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas arsy, Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, (Dia ciptakan) matahari, bulan, bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. al-`A’raaf (7): 54)
Dalam ayat ini Ia menjelaskan ketinggian-Nya, bahwasanya Ia adalah Sang pencipta dan Sang pemberi rezeki, bahwasanya Ia subhaanahuu pemilik penciptaan dan urusan, bahwasanya Ia menutupkan malam kepada siang, bahwa Ia pencipta matahari dan bulan, Ia pencipta bintang gemintang, agar hamba mengetahui kebesaran keadaan-Nya, kesempurnaan kekuasaan-Nya, kesempurnaan ilmu-Nya, bahwasanya Ia yang tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, bahwa Ia subhaanahuu yang berhak untuk diibadahi.
Merupakan bagian dari masalah ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla:
وَإِذْ قَالَ اللهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ * مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ * إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ *
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha mengetahui segala yang gaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhan-ku dan Tuhan-mu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka, sesungguhnya Engkau Yang Maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. al-Maa`idah (5): 116-118)
Perhatikan, dalam ayat ini, bagaimana Ia menjelaskan sifat-sifat yang agung bagi Allah ‘azza wa jalla, ayat-ayat yang mengajak untuk hanya beribadah kepada-Nya, tidak kepada selain-Nya, menjelaskan bahwa Ia mengetahui segala yang gaib, bahwasanya Ia Mahaperkasa dan Mahabijaksana, bahwasanya Ia Maha mengawasi dan Maha menyaksikan hamba-hamba-Nya, bahwasanya Ia mengetahui apa yang ada pada diri Isa nabi-Nya dan Isa tidak mengetahui apa yang ada pada diri subhaanahuu wa ta’aalaa.
Ayat ini juga menunjukkan penetapan sifat, dan bahwa para rasul datang dengan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan gambaran yang selayaknya dengan Allah subhaanahuu wa ta’aala, dan bahwasanya Ia ‘azza wa jalla disifatkan dengan mempunyai diri, diri yang selayaknya bagi-Nya ‘azza wa jalla yang tidak menyerupai diri-diri makhluk, sebagaimana bahwa Ia subhaanahuu mempunyai wajah, tangan, kaki, dan jari yang tidak menyerupai sifat makhluk. Sebagiannya terdapat dalam Kitab-Nya yang mulia, dan sebagiannya ada di dalam sunnah yang suci yang menyebutkan tentang wajah, tangan, kaki dan jari. Semua itu merupakan dalil atas bahwasanya Ia subhaanahuu disifatkan dengan sifat yang sempurna, dan tidak mesti semua itu menyerupai makhluk, karenanya Ia ‘azza wa jalla berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang Maha mendengar, Maha melihat. (QS. asy-Syu’araa` (42): 11)
Mahasuci Ia dan Mahatinggi, Allah menafikan dari dirinya kesamaan, kemudian Allah menetapkan untuk Diri-Nya pendengaran dan penglihatan. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat dan bama-nama-Nya tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang seumpama-Nya, bahkan Ia jalla wa ‘alaa yang sempurna pada zat, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, Dia-lah jalaa wa ‘alaa yang berhak diibadahi dan diagungkan. Adapun sifat makhluk itu lemah dan kurang, adapun Ia jalla wa ‘alaa Dia-lah yang sempurna dalam segala sesuatu, ilmu-Nya sempurna, sifat-sifatnya sempurna, tidak diragukan lagi bahwa sifat makhluk selamanya tidak menyerupai sifat-sifat Allah dari segi apapun, karena itu Ia subhaanahuu berfirman:
فَلاَ تَضْرِبُواْ للهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sungguh, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl (16): 74)
Dan Ia ‘azza wa jalla berfirman:
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ *
Katakanlah (Muhammad), “DIa-lah Allah Yang Mahaesa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. al-`Ikhlash (112): 1-4)
Dan Ia subhaanahuu berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang Maha mendengar, Maha melihat. (QS. asy-Syu’araa` (42): 11)
Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan apa yang terdapat dalam kitab Allah dan apa-apa yang sahih yang datang dari Rasulullah ‘alayhimush shalaat was salaam, baik nama-nama atau sifat-sifat-Nya dengan gambaran yang selayaknya bagi-Nya jalla wa ‘alaa tanpa pemindahan arti (tahrif), tanpa penghilangan (ta’thil), tanpa penggambaran (tamtsil), tanpa penambahan, dan tanpa pengurangan, bahkan menetapkan sebagaimana yang telah disampaikan atau sebagaimana adanya, disertai keimanan bahwasanya itulah kebenaran, dan bahwasanya itulah (sifat-sifat) yang tetap bagi Allah subhaanahuu dengan yang selayaknya bagi-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa, dengan sifat yang tidak diserupai makhluk-Nya, sebagaimana Ia ‘azza wa jalla berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang Maha mendengar, Maha melihat. (QS. asy-Syu’araa` (42): 11)
Ini adalah salah satu masalah dari berbagai masalah tauhid, bahkan ini adalah masalah yang terpenting. Dalam kitab-Nya yang mulia Allah subhaanahuu wa ta’aalaa menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan mengulangnya di banyak tempat, agar Allah subhaanahuu dikenal dengan keagungan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya jalla wa ‘alaa. Semua perbuatan Allah adalah baik dan indah, seluruh nama-Nya baik dan indah dan semua sifat-Nya adalah keagungan. Dengan demikian hamba mengenal Rabb sang pencipta mereka dan karenanya mereka menyembah-Nya dengan pengetahuan yang mantap dan mereka kembali kepada-Nya dengan ilmu yang mantap, dan bahwasanya Allah mendengar doa mereka dan menjawab orang yang membutuhkan-Nya, dan sesungguhnya Ia subhaanahuu wa ta’aalaa Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tentang hal yang demikian Allah jalla wa ‘alaa menceritakan keadaan dari sebagian kaum Musa yang berasal dari Bani Israil ketika mereka menyembah anak sapi dan Allah subhaanahuu menjelaskan kerusakan keadaan mereka dan kebatilan apa yang mereka lakukan, Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِن بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلاً جَسَدًا لَّهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّهُ لاَ يُكَلِّمُهُمْ وَلاَ يَهْدِيهِمْ سَبِيلاً اتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَالِمِينَ *
Dan kaum Musa, setelah kepergian (Musa ke Gunung Sinai) mereka membuat patung anak sapi yang bertubuh dan dapat melenguh (bersuara) dari perhiasan (emas). Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. al-`A’raaf (7): 148)
Ia menjelaskan kepada kita bahwa Tuhan yang berhak diibadahi adalah Tuhan yang dapat berbicara, dapat mendengar dan melihat, dapat menunjukkan jalan, dan bahwa di tangan-Nya-lah kekuasaan atas segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. Adapun anak sapi yang disembah selain Allah, maka ini adalah akibat rusaknya akal, anak sapi yang tidak dapat mengabulkan doa orang yang berdoa kepadanya, tidak dapat berbicara, tidak dapat menjawab tidak memberi manfaat juga mudarat, bagaimana ia diibadahi selain dari Allah? Dalam ayat lain Ia ‘azza wa jalla berfirman:
أَفَلاَ يَرَوْنَ أَلاَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلاً وَلاَ يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا
Maka tidakkah mereka memperhatikan bahwa (patung anak sapi itu) tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka? (QS. Thaahaa (20): 89)
Yakni anak sapi itu tidak dapat menjawab orang yang berbicara kepadanya serta tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak dapat menolak mudarat, jika seseorang berakal sehat dan jernih bagaimana ibadah ditujukan kepadanya? Di dalam kitab Allah banyak sekali ayat yang semakna dengan ini, di mana Allah subhaanahuu wa ta’aalaa menjelaskan kepada hamba-Nya bahwasanya Dia-lah yang berhak diibadahi, karena kesempurnaan kekuasaan yang besar, Dia-lah Sang pemilik segala sesuatu, Yang menguasai segala sesuatu, Yang mendengar orang yang berdoa kepada-Nya, Yang mampu menunaikan hajat mereka dan menjawab orang yang membutuhkan-Nya, yang dapat memberi manfaat dan dapat menolak mudarat, memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus subhaanahuu wa ta’aalaa.
Allah telah mengutus nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang merupakan penghulu segala makhluk, pemimpin para rasul, ia diutus Allah dengan apa yang telah diutus para rasul terdahulu, yaitu pentauhidan Allah dan ikhlas kepada-Nya serta pendakwahan kepadanya, penjelasan sifat-sifat dan nama-nama-nya dan bahwasanya Dia-lah jalla wa ‘alaa yang berhak untuk diibadahi, itulah dakwah yang sempurna. Allah jalla wa ‘alaa berfirman:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua. (QS. al-`A’raaf (7): 158)
Diturunkan kepadanya kitab yang mulia, kitab yang termulia dan teragung serta paling bermanfaat dan paling luas, di dalamnya dijelaskan dalil-dalil tauhid, dijelaskan bahwa Ia adalah Rabb yang agung, yang menguasai segala sesuatu, sang pemilik segala sesuatu, yang memberi manfaat dan menolak mudarat, dan dalam banyak ayat Ia memerintah nabi-Nya untuk menyampaikannya kepada manusia. Siapa yang mengkaji al-Qur`an akan mengetahuinya, sebagaimana firman Allah subhaanahuu:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ
Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” (QS. Luqmaan (31): 25)
Dan Ia subhaanahuu berfirman:
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ *
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yuunus (10): 31)
Allah memerintahkan Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam untuk menghujjah mereka dengan yang mereka yakini berupa perbuatan dan kekuasaan Tuhan, dan bahwa Tuhan yang menghidupkan dan yang mematikan dan bahwa Tuhan adalah yang mengatur dan yang memberi rezeki, menghujjah mereka mengapa mereka mengingkari dan menolak pentauhidan dalam ibadah. Artinya jika kalian meyakini bahawa Tuhan kalian ini yang dapat memberikan manfaat dan yang dapat menolak mudarat, yang mengatur segala urusan, yang menghidupkan, yang mematikan dan yang memberi rezeki hamba-Nya, mengapa kalian tidak meninggalkan menyekutukan-Nya dan hanya menyembah-Nya, tidak yang selain-Nya jalla wa ‘alaa. Karenanya Ia subhaanahuu berfirman:
قُل لِّمَنِ اْلأَرْضُ وَمَن فِيهَا إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ للهِ قُلْ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ *
Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Maka apakah kamu tidak ingat?” (QS. al-Mu`minuun (23): 84-85) dan ayat selanjutnya dari surah tersebut menceritakan hal yang sama.
Melewati lidah Rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam Allah memperingatkan hamba-Nya dengan kebesaran hak-Nya, memperingatkan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan bahwasanya Ia yang berhak diibadahi, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya, kesempurnaan ilmu-Nya, kesempurnaan kebaikan-Nya, Dia-lah yang memberi manfaat dan menolak mudarat, Dia-lah yang menguasai segala sesuatu, yang bersendirian pada perbuatan, nama dan sifat-Nya, bersendirian dari penyerupaan dan bandingan jalla wa ‘alaa.
Ketika Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallaahu ‘alayhi was sallam, seperti para rasul sebelumnya, ia memulai dakwahnya dengan pentauhidan, ia berkata kepada kaum Quraisy:
يَا قَوْمِ! قُوْلُوْا لآ إِلَهِ إِلاَّ اللهُ تُفْلِحُوْا
Wahai kaumku! Ucapkan Laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah), kalian akan beruntung.
Seperti demikian ia memulai dakwahnya, Ia tidak memulainya dengan memerintah mereka untuk melaksanakan shalat, membayar zakat, ia tidak memulainya dengan memerintahkan meninggalkan minuman keras atau zina atau yang seumpamanya. Bahkan ia memulainya dengan pentauhidan, karena pentauhidan adalah dasar atau pondasi, apabila ia kokoh maka akan mudahlah yang lainnya. Ia memulai dakwahnya dengan sesuatu yang besar dan mulia, yaitu pentauhidan Allah dan keikhlasan kepada-Nya serta keimanan dengannya dan keimanan dengan para rasul-Nya. Dasar agama dalam setiap syariat para rasul adalah pentauhidan Allah dan pengikkhlasan kepada-Nya. Pentauhidan Allah dan pengikhlasan kepada-Nya adalah agama seluruh kaum muslim, itu dakwah mereka semua dan saripati dari dakwah para rasul ‘alayhimush shalaat was salaam, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Ketika Rasul ‘alayhish shalaat was salaam mengatakan kepada kaumnya: katakan Laa ilaah illallaah, mereka mengingkari dan menganggapnya ganjil, karena itu akan menyalahi apa yang telah mereka dan nenek moyang mereka lakukan, yaitu telah melakukan kesyirikan dan penyembahan berhala sejak masa yang lama, sejak agama mereka dirubah oleh ‘Amr bin Luhayy al-Khuza’iy, seorang pemimpin Makkah, yang pernah berangkat ke Syam dan ia melihat orang-orang menyembah berhala. Kemudian ia kembali ke Makkah dan mengajak manusia untuk menyembah berhala karena mengikuti orang kafir di Syam. Dikatakan kepadanya untuk pergi ke Jeddah dan di sana ia akan menemukan banyak berhala, dan ia diperintahkan untuk mengambilnya dan mengajak orang Arab untuk menyembahnya.
Maka iapun membawanya dan menyebarkannya di antara orang-orang Arab, dan merekapun menyembahnya, yaitu mereka menyembah Wadd, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr yang dahulu disembah kaum Nuh, maka terkenallah berhala-berhala tersebut di kalangan orang Arab dan disembah bersama Allah. Semua itu disebabkan ajakan dari ‘Amr bin Luhayy yang tersebut di atas. Kemudian mereka menambah berhala-berhala dan patung-patung baru yang lain, di sekuruh kabilah, berhala-berhala dan patung-patung yang mereka sembah bersama Allah, mereka memohon kepada mereka segala hajat mereka, serta mereka jadikan sebagai ilaah bersama Allah, mereka mendekatkan diri kepada mereka dengan berbagai ibadah, seperti penyembelihan, nazar, doa-doa, sentuhan/usapan dan lain sebagainya.
Sebagian dari berhala dan patung tersebut adalah al-‘Uzzaa berhala penduduk Mekkah, Manaat berhala penduduk Madinah dan sekitarnya, al-Laat berhala penduduk al-Thaa`if dan sekitarnya serta berhala dan patung lainnya yang ada di tanah Arab. Ketika Rasul yang mulia ini, Rasul kita ‘alayhish shalaat was salaam mengajak untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan tuhan-tuhan meraka, merekapun menolaknya dan berkata:
أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. (QS. Shaad (38): 5)
Tentang mereka dalam Surah as-Shaaffaat Allah ‘azza wa jalla berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ * وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ *
Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka “Laa ilaaha illallaah” (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS. ash-Shaaffaat (37): 35-36)
Perhatikan bagaimana kejahilan telah menguasai mereka sampai-sampai ajakan untuk mentauhidkan Allah sebagai sesuatu yang mengherankan, mereka menyombongkan diri dan menganggapnya aneh, bahkan mereka memusuhi orang yang mendakwahkan pentauhidan dan bersepakat dan berusaha untuk membunuhnya. Namun Allah menyelamatkannya dari tipu daya mereka, kemudian ia ‘alayhish shalaat was salaam berhijrah ke Madinah. Mereka juga berusaha membunuhnya dalam perang Badr, namun mereka tidak berhasil. Lebih keras lagi usaha mereka untuk membunuhnya pada perang Uhud, sekali lagi Allah menyelamatkannya dari usaha dan tipu daya mereka. Usaha mereka itu mereka ulangi lagi pada perang Ahzaab untuk memberantas dakwah dan membunuh rasul dan para sahabatnya, namun sekali lagi Allah menggagalkan usaha mereka, memporak-porandakan kelompok mereka, menyelamatkan mereka dari tipu daya mereka, dan Allah menolong agamanya, memperkuat dakwahnya, Allah membantunya berjuang terhadap musuh-musuhnya sehingga ia memperoleh kebahagiaan sebelum wafatnya ‘alayhish shalaat was salaam dengan kemenangan agamanya, nampaknya kebenaran, tersebarnya tauhid di muka bumi, hancurnya berhala-berhala, setelah terbukanya Makkah di bulan Ramadan pada tahun delapan hijrah. Setelah itu dengan berbondong-bondong masuklah orang-orang ke dalam agama Allah dengan sebab terbuka dan ditaklukkannya Makkah dan masuknya orang-orang Quraysy ke dalam agama Islam, kemudian diikuti oleh suku-suku Arab lainnya masuk ke dalam agama Allah dan menerima apa yang didakwahkan oleh Nabi ‘alayhi `afdhalush shalaati was salaam, berupa pentauhidan Allah, ikhlas hanya kepadanya jalla wa ‘alaa, dan berpegang teguh dengan syariat Allah subhaanahuu wa ta’aalaa.
Artinya adalah bahwa rasul dan nabi kita Muhammad ‘alayhish shalaatu was salaam telah mendakwahkan apa yang telah didakwahkan oleh para rasul sebelumnya, sejak Nuh dan seterusnya, yaitu mendakwahkan pentauhidan Allah, keikhlasan hanya kepada-Nya dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.
Ini adalah dakwah pertamanya dan bahkan intisarinya, ini adalah kewajiban yang utama, kewajiban yang pertama, dan kewajiban yang terbesar. Selama sepuluh abad sejak masa Adam hingga masa Nuh ‘alayhis salaam anak cucu Adam berada dalam pentauhidan, sebagaimana yang dikatakan oleh `Ibnu ‘Abbas, kemudian ketika mereka berselisih disebabkan kesyirikan yang terjadi pada kaum Nuh, maka Allah mengutus para rasul. Allah ‘azza wa jalla berfirman:
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ
Manusia itu (dahulunya) satu ummat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. (QS. al-Baqarah (2); 213)
Artinya ummat ini dahulunya satu ummat dalam pentauhidan dan keimanan, tetapi kemudian mereka berselisih, sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain pada Surah Yuunus:
وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلاَّ أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُواْ
Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu ummat, kemudian mereka berselisih. (QS. Yuunus (10): 19)
Artinya sesungguhnya mereka dahulunya dalam pentauhidan dan keimanan. Inilah perkataan yang benar, tetapi kemudian terjadi perselisihan di antara mereka disebabkan ajakan setan untuk beribadah kepada Wadd, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr. Ketika terjadi kesyirikan pada kaum Nuh yang disebabkan kelerlebihan (ghuluww) mereka terhadap orang-orang saleh dan dihiasi setan agar menyembah mereka selain Allah. Maka Allah mengutus kepada mereka Nuh ‘alayhish shalaat was salaam. Dan ia mengajak mereka kepada pentauhidan Allah dan keikhlasan kepada-Nya serta meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya jalaa wa ‘alaa.
Nuh ‘alayhish shalaat was salaam adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi setelah di bumi terjadi kesyirikan. Adapun Adam, memang ada hadits-hadits yang lemah yang menunjukkan bahwa ia nabi dan rasul yang mendapat wahyu, tetapi tidak dapat dipegang karena kelemahan sanad-sanadnya. Memang tidak diragukan ia telah diberi wahyu dengan satu syariat dan ia ‘alayhish shalaat was salaam melaksanakan syariat dari Tuhan-Nya, dan keturunannya mengikuti syariatnya dan pentauhidan Allah serta keikhlasan kepada-Nya, kemudian setelah berlalu sepuluh abad, atau sebagaimana yang dikehendaki Allah, terjadilah kesyirikan pada kaum Nuh pada Wadd, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr, sebagaimana yan telah dijelaskan terdahulu.
Terdapat dalam atsaar yang terkenal dari `Ibnu ‘Abbas dan lainnya bahwa Wadd, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr adalah orang-orang saleh. Ketika mereka telah wafat setan membisikkan kepada kaum mereka agar mereka membangun patung-patung di majlis-majlis mereka serta menamakannya dengan nama-nama mereka. Dan itu mereka lakukan namun patung-patung itu tidak disembah. Ketika para pembangun pertama telah habis meninggal dan ilmu telah hilang, maka patung-patung itu menjadi sesembahan selain Allah ‘azza wa jalla. Artinya ketika ilmu telah hilang dan ulama-ulama yang bersih telah habis maka setan datang kepada manusia dan berkata kepada mereka: “Sesunggguhnya patung-patung ini dibuat karena mereka bermanfaat, serta untuk diseru dan dimintai pertolongan dan juga diminta agar hujan”. Tersebab itu maka terjadilah kesyirikan pada manusia.
Dengan ini diketahui bahwa Nuh ‘alayhish shalat was salaam adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi sesudah terjadi kesyirikan di dalamnya. Sebagaimana yang terdapat dalam dua buah kitab hadits shahih dan yang lainnya:
… مِنْ أَنَّ أَهْلَ الْمَوْقِفِ يَوْمَ الْقِيَامََةِ يَقُوْلُوْنَ: يَا نُوْحُ، أَنْتَ أًَوَّلُ رَسُوْلٍ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى اَهْلِ اْلأَرْضِ، فَإشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ … (الحديث)
… bahwa orang-orang yang berada di padang mahsyar pada hari kiamat berkata: Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi mintakan untuk kami syafaat kepada Tuhan-mu … (hadits dan seterusnya).
Adapun kenabian Adam ‘alayhish shalaat was salaam telah tetap sebelumnya dengan dalil-dalil yang lain. Terdapat dalam hadits `Abuu Dzarr dari `Abuu Haatim bin Hibban dan lainnya bahwa ia bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alayhi was salaam tentang jumlah para rasul dan nabi, maka Nabi shallallaahu ‘alayhi was salaam bersabda:
الأَنْبِيَاءُ مِائَةٌ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا، وَالرُّسُلَ ثَلاَثُمِائَةٍ وَثَلاَثَةَ عَشَرَ، وفى رواية أبى أمامة: ثَلاَثُمِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ
Jumlah para nabi adalah seratus dua puluh empat ribu, sedang jumlah para rasul tiga ratus tiga belas, dalam riwayat `Abuu `Umamah, tiga ratus lima belas.
Namun sayang, menurut ulama ahli hadits, kedua hadits ini lemah, meski untuk keduanya terdapat hadits-hadits penguat (syawaahid) namun sayang penguatnya juga hadits-hadits lemah, sebagaimana telah kami sebutkan barusan. Dalam sebagian hadits disebutkan bahwa Nabi ‘alayhish shalat was salaam bersabda:
أَلْفُ نَبِيًّ فَأَكْثَرُ، وفى بعضها، أَنَّ اْلأَنْبِيَاءَ ثَلاَثَةُ أَلاَفٍ
Seribu nabi lebih, dalam sebagian riwayat lain, bahwa jumlah para nabi tiga ribu.
Semua hadits tentang jumlah nabi dan rasul adalah lemah bahkan `Ibnu al-Jawziy memasukkan hadits `Abuu Dzarr ke dalam buku kumpulan hadits-hadits palsu. Artinya tentang jumlah para nabi dan rasul tidak ada khabar yang dapat diterima dan dipegang. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka selain Allah subhaanahuu wa ta’aalaa, jumlah mereka sangat banyak, sebagian dari mereka telah diceritakan Allah tentang kabar mereka dan sebagian yang lain tidak Allah kabarkan tentang mereka kepada kita, semua itu karena hikmah Allah jalla wa ‘alaa yang dalam. Hikmah yang utama adalah bahwa kita mengetahui bahwa mereka semua mendakwahkan pentauhidan Allah dan keikhlasan kepada-Nya subhaanahu wa ta’aalaa. Dan kita mengetahui bahwa mereka mengajak kaumnya untuk pentauhidan dan keikhlasan. Sebagian kaumnya ada yang menerima dan sebagian yang lain menolak dakwah ini. Sebagian mereka ada yang diikuti hanya oleh sebagian kaumnya, bahkan ada yang tidak seorangpun yang menerima dakwahnya, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh nabi kita Muhammad ‘alayhish shalaat was salaam.
Nabi kita ‘alayhish shalaat was salaam adalah penutup para nabi dan rasul dan yang paling mulia. Seperti sudah diketahui telah terjadi permusuhan dan pertikaian antara dia dengan kaumnya di Makkah al-Mukarramah. Dia dan para sahabatnya banyak disakiti, bahkan kaumnya bersepakat untuk membunuhnya, namun Allah menyelamatkannya dari mereka. Di Madinah terjadi beberapa peperangan dan perjuangan yang berat, namun Allah menolong dan mengokohkannya ‘alayhish shalaat was salaam.
Dengan demikian jelaslah bagi semua bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah pentauhidan Allah dan keikhlasan kepada-Nya, dan dakwah semua nabi dan rasul adalah pentauhidan Allah dan keikhlasan kepada-Nya, keimanan dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Sesungguhnya Ia tunggal dalam kerububiyyahan-Nya, esa dan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, satu dalam keberhakan untuk diibadahi dari selain-Nya, tidak ada yang berhak diibadahi selain-Nya, baik nabi, malaikat, orang saleh atau makhluk lainnya. Ibadah adalah hak Allah jalla wa ‘alaa, karena ibadahlah Ia subhaanahuu wa ta’aalaa menciptakan makhluk dan karena ibadahlah Ia mengutus para rasul, sebagaimana Ia subhaanahuu wa ta’aalaa berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzaariyaat (51): 56)
Dan Ia ta’aalaa berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaaghuut. (QS. an-Nahl (16): 36)
Karena ibadah kepada Allah dan pentauhidan-Nya maka diciptakan makhluk, diutus para rasul dan dturunkan beberapa kitab, sebagaimana Ia ta’aalaa berfirman:
الَر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ * أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ اللهَ
Alif Laam raa (inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana, Mahateliti, agar kamu tidak menyembah selain Allah. (QS. Huud (11): 1-2)
Dan Ia subhaanahu berfirman:
هَـذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِ وَلِيَعْلَمُواْ أَنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ
Dan (al-Qur`an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan yang Mahaesa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS. `Ibraahiim (14): 52)
Dalam kitab-Nya yang mulia Allah telah menjelaskan dengan ayat-ayat dan ciptaan-Nya yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang agung, keuluhiyyahan dan kerububiyyahan-Nya, dan sesungguhnya Dia-lah subhaanahuu wa ta’aalaa yang berhak untuk diibadahi. Siapa yang merenungkan kitab Allah dan ciptaan-Nya ia akan mendapatkan dari ayat-ayat yang dibaca, ayat-ayat ciptaan dan berbagai khabar yang menunjukkan bahwa Ia jalla wa ‘alaa yang berhak untuk diibadahi dan para rasul telah menyampaikan dan mendakwahkannya, dan bahwa sesungguhnya kesyirikan yang terjadi pada kaum Nuh sampai sekarang masih saja terjadi, masih saja ada manusia yang menyembah patung dan berhala, dan berlebihan dalam mengagungkan orang saleh dan para nabi, sebagian manusia menyembah mereka bersama Allah. Sebagaimana sudah diketahui oleh setiap orang yang mempelajari sejarah dunia sejak masa Nuh hingga sekarang.
Dengan yang sudah dijelaskan terdahulu baik dari kitab Allah ‘azza wa jalla, dan sabda rasul-Nya Muhammad ‘alayhi `afdhalush shalaat wa `azkat tasliim dan yang terjadi di dunia jelaslah bahwa tauhid itu beberapa bagian, sebagaimana yang sudah diteliti oleh para ulama dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ‘alayhish shalaat was salaam.
Tauhid tiga bagian:
Pertama: Tawhiid ar-Rubuubiyyah, yaitu keimanan bahwa Allah ‘azza wa jalaa esa dalam segala pebuatan-Nya, tunggal dalam penciptaan dan pengaturan hamba-Nya, Dia-lah yang menguasai hamba-Nya sebagaimana dikehendakinya subhaanahuu wa ta’aalaa dengan ilmu dan kekuasaan-Nya jalaa wa ‘alaa.
Kedua: Tawhiid al-`Asmaa` wa ash-Shifaat, yaitu bahwa Ia subhaanahu wa ta’aalaa disifatkan dengan nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang agung, dan bahwasanya Ia sempurna dalam diri, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya jalla wa ‘alaa. Tidak ada yang seumpama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dan tidak ada bandingan untuk-Nya ¬‘azza wa jallaa.
Ketiga: Tawhiid al-‘Ibaadah, yaitu bahwa hanya Ia subhaanahuu wa ta’aala yang berhak untuk diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya selain daripada-Nya jalla wa ‘alaa.
Dapat juga dikatakan bahwa pentauhidan Allah subhaanahuu wa ta’aalaa itu adalah keimanan bahwa Ia tuhan (rabb), pencipta dan pemberi rezeki untuk semua, bahwa Ia tidak ada sekutu bagi-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa dalam seluruh perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan dan pemberian rezeki untuk hamba-Nya, tidak ada sekutu baginya dalam pengaturan segala perkara, Dia-lah jalla wa ‘alaa pemilik segala sesuatu, sebagaimana Ia subhaanahuu wa ta’aalaa berfirman:
لِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Maa`idah (5): 120)
Dia-lah pemilik segala sesuatu, Ia jallaa wa ‘alaa yang menguasai segala sesuatu, milik-Nya segala urusan, milik-Nya penciptaan, sebagaimana Ia ta’aala befirman:
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya, Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. al`A’raaf (7): 54)
Dia yang disifati dengan segala sifat kesempurnaan, yang dinamai dengan nama-nama yang baik, tidak ada yang seumpama dengan-Nya dalam penciptaan, bahkan Dia-lah yang sempurna pada diri, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Dia-lah yang berhak untuk diibadahi dan dikhususkan dengan ibadah, berupa doa, rasa takut, harapan, tawakkal, keinginan, ketakutan, shalat, puasa, penyembelihan, nazar dan lain sebagainya.
Semua ini dinamakan pentauhidan, pentauhidan Allah subhaanahuu wa ta’aalaa, pentauhidan para nabi dan rasul kepada Allah, inilah pentauhidan yang disampaikan oleh penutup, penghulu dan pemimpin para nabi dan rasul, yaitu nabi kita Muhammad ‘alayhish shalaat was salaam.
Dapat juga diungkapkan dengan ungkapan yang lain, yaitu bahwa pentauhidan yang disampaikan para rasul terbagi dua bagian:
Pertama: Tawhid al-Ma’rifat wal al-`Itsbaat, yaitu keimanan dengan nama-nama, sifat-sifat dan zat-Nya, keimanan penciptaan Allah dan pemberian rezeki hamba-Nya, dan pengaturan segala urusan hamba-Nya.
Inilah Tawhiid al-Ma’rifat wa al-`Itsbaat, yaitu pengimanan dan pembenaran bahwa Allah subhaanahuu esa dalam rububiyyah-Nya, tunggal pada nama-nama, sifat-sifat dan pengaturan-Nya terhadap hamba-Nya, Dia-lah pecipta dan pemberi mereka rezeki, yang disifatkan dengan sifat yang sempurna, yang suci dari kekurangan dan cacat, tidak ada sekutu bagi-Nya pada yang demikian itu, tidak ada yang seumpama dengan-Nya, dan tidak ada bagi-Nya jalla wa ‘alaa bandingan.
Kedua: Tawhiid al-Qashd wa ath-Thalab, yaitu menunggalkan Allah dalam maksud, tujuan, shalat, puasa dan ibadah lainnya, semua itu tidak ditujukan kecuali untuk Wajah-Nya jalaa wa ‘alaa, demikian juga sedekah dan segala amal untuk mendekatkan diri, tidak ditujukan dengannya kecuali untuk Wajah-Nya jalla wa ‘alaa, tidak berdoa kecuali kepada-Nya, tidak bernazar kecuali untuk-Nya, tidak bertaqarrub dengan berbagai amal kecuali untuk-Nya subhaanahu, tidak mengharapkan kesembuhan dari sakit, pertolongan dari musuh kecuali dari-Nya ‘azza wa jalla. Yaitu dengan mengesakan-Nya dalam semua itu.
Bagian-bagian pentauhidan ini dapat diungkapkan dengan dua bagian, atau tiga bagian atau satu bagian, sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu.
Tidak menjadi persoalan peristilahan dan ungkapan, yang menjadi tujuan utama adalah pengenalan pentauhidan yang karenanya Allah mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab dan terjadi permusuhan antara para rasul dengan kaum mereka, yaitu pentauhidan dalam ibadah.
Adapun Allah sebagai rabb, pencipta, pemberi rezeki, Ia sempurna pada zat, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, tidak ada yang seumpama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya, semua ini tidak ada perselisihan tentangnya antara para rasul dan kaum mereka, bahkan seluruh musyrik Quraysy dan lainnya mengakuinya. Adapun pengingkaran Fir’aun dan pengakuannya sebagai rabb maka itu adalah kesombongan dan penentangan belaka yang ia mengetahui bahwa itu salah, sebagaimana yang dikatakan Musa kepada Fir’aun:
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَـؤُلاء إِلاَّ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ بَصَآئِرَ
Dia (musa) menjawab, “Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. (QS. al-`Israa` (17): 102)
Dan Ia subhaanahuu berfirman tentangnya dan orang-orang yang sepertinya:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. (QS. an-Naml (27): 14)
Dan Ia ta’aalaa berfirman:
قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللهِ يَجْحَدُونَ
Sungguh, Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (Muhammad), (janganlah bersedih hati) karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (QS. al-`An’aam (6): 33)
Seperti demikian adalah merupakan penentangan dan kesombongan orang-orang yang menganggap tentang ketuhanan atau keilahiyyahan cahaya (nur) dan kegelapan (zhulmah), meskipun demikian mereka tidak mengatakan bahwa keduanya sama, tidak ada di dalam dunia ini yang mengatakan tentang adanya dua tuhan yang sama dalam kekuasaan dan pengaturan. Adapun pengingkaran kaum ateis dan dari musuh-musuh Allah yang lain tentang keberadaan (wujud) tuhan, dan pengingkaran mereka terhadap akhirat, hal ini tidaklah aneh, ini disebabkan akal mereka yang rusak dan dikuasai oleh setan sehingga ia terpaling dari fitrah manusia yang diciptakan Allah. Kaum ateis meskipun lidah-lidah mereka mengingkari keberadaan tuhan, namun hati-hati mereka mengakuinya, sebagaimana yang diakui oleh semua makhluk dan diakui oleh segala sesuatu, sebagaimana Ia subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَـكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepda Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Ia Mahapenyantun, Mahapengampun. (QS. al-`Israa` (17): 44)
Dan Ia jalla wa ‘alaa berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي اْلأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ
Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. (QS. al-Hajj (22): 18)
Artinya orang-orang yang kafir yang fasik yang mengingkari keberadaan tuhan sekalian alam pada hakikatnya adalah kesombongan dan penentangan terhadap fitrah dan akalnya. Karena kefitrahan dan akal membuktikan akan keberadaan tuhan yang berkuasa di alam, yang mengatur semua hamba, tidak ada seumpama-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya subhaanahuu, Mahatinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang yang zalim. Karena itu dikatakan bahwa orang musyrik mengakui ketauhidan dalam ke-rubuubiyyahan, serta mengakui nama-nama dan sifat-sifat, bahkan mereka tidak mengingkarinya. Karena mereka mengetahui bahwa Allah jalla wa ‘alaa pencipta dan pemberi rezeki hamba, pengatur segala urusan mereka, yang menurunkan hujan, yang menghidupkan dan yang mematikan, dan sangat memberi rezeki hamba dan lain sebagainya seperti yang telah dijelaskan dahulu.
Apabila kita telah mengetahui yang demikian maka kewajiban kita semua mengerahkan segala upaya untuk menjelaskan dasar yang penting ini dan menyebarkannya kepada manusia, serta menerangkannya kepada mereka, sehingga mereka mengetahui setelah dahulu tidak mengetahuinya, sehingga hanya Allah-lah yang disembah oleh orang yang dahulunya menyekutukan-Nya dan menyelisihi perintah-Nya, sehingga ia mengikuti para rasul dan berjalan di atas manhaj mereka dalam berdakwah kepada Allah, sebagai penunaian amanah yang dibebankan kepada manusia. Maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mendapat hidayah lewat dirinya hingga hari kiamat, sebagaimana Allah jalla wa ‘alaa berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).” (QS. Fushshilat (41): 33)
Dan Ia subhaanahu berfirman:
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Yuusuf (12): 108)
Dan Ia jalla wa ‘alaa berfirman:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik. (QS. an-Nahl (16): 125)
Dalam satu hadits yang shahih Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مِنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ. (رواه مسلم فى صحيحه)
Siapa yang menunjukkan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti pelakunya. (HR. Muslim dalam Kitab Shahihnya)
Nabi shallallaahu ‘alayhi was sallam bersabda kepada ‘Ali ketika ia diutus ke Khaybar:
وَاللهِ، لَئَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمُرِ الْنَعَمِ. (متفق على صحته)
Demi Allah, disebabkan engkau Allah memberi hidayah seseorang itu lebih baik bagimu daripada onta merah. (Hadits disepakati keshahihannya)
Kita bermohon kepada Allah agar Ia memberi kita semua pemahaman dalam agama-Nya dan istiqamah dalam apa-apa yang diridhai-Nya, kita memohon semoga Ia melindungi kita semua dari sebab-sebab yang membuat-Nya marah, dan dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, kita memohon semoga Allah memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin dan memberikan mereka pemimpin yan terpilih, sesungguhnya Ia subhaanahuu wa ta’aalaa Mahapemurah lagi Mahamulia. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti kebaikan mereka hingga hari agama.

III
PENJELASAN ARTI SYIRIK TERHADAP ALLAH

Pertanyaan: Apa arti kesyirikan dan apa penjelasan firman-Nya ta’aala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ … (الأية)
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah … dan seterusnya. (QS. al-Maa`idah (5): 35)
Jawab: Kesyirikan adalah menyekutukan Allah dengan yang lainnya dalam beribadah, seperti menyeru berhala atau yang lainnya, meminta tolong, bernazar, shalat, puasa dan menyembelih untuk berhala, seperti menyembelih untuk Syekh al-Badawi atau Syekh al-‘Aydaruus, shalat untuk si anu, meminta pertolongan kepada Rasul shallallaahu ‘alayhi wa sallam, atau kepada Syekh Abdul Qaadir, atau kepada Syekh al-‘Aydaruus di Yaman, atau yang lainnya berupa orang-orang yang telah meninggal atau yang gaib. Semua ini dinamakan kesyirikan. Demikian juga apabila menyeru bintang-bintang atau memohon pertolongan kepada mereka atau meminta kepada mereka bantuan dan yang seumpamanya. Apabila salah satu ini ibadah ini dilakukan bersama untuk benda mati atau orang yang sudah meninggal atau yang gaib, maka menjadi kesyirikan terhadap Allah ‘azza wa jalla. Allah jalla wa ‘alaa berfirman:
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. al-`An’aam (6): 88)
Dan Ia subhaanahuu berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. (QS. az-Zumar (39): 85)
Merupakan bagian dari kesyirikan adalah mempersembahkan seluruh ibadah kepada selain Allah, kesyirikan ini bahkan dinamakan kekafiran. Siapa yang berpaling dari Allah secara keseluruhan dan menjadikan ibadahnya kepada selain Allah, seperti kepada pepohonan, bebatuan, berhala, jin, kepada sebagian orang yang telah meninggal yang mereka namakan dengan para wali, mereka disembah, puasa ditujukan untuk mereka dan secara keseluruhan melupakan Allah. Ini merupakan kekufuran dan kesyirikan yang terbesar, kita memohon kepada Allah keafiatan. Demikian juga orang yang mengingkari keberadaan (wujud) Allah dengan mengatakan: Tidak ada tuhan dan kehidupan ini hanyalah materi, seperti kaum komunis dan ateis yang mengingkari keberadaan Allah. Mereka adalah manusia yang paling kafir dan sesat, paling besar kesyirikan dan kesesatan. Kita memohon kepada Allah keafiatan.
Artinya orang yang beriktikad seperti ini dan yang seumpamanya dinamakan kesyirikan bahkan dinamakan kekufuran terhadap Allah ‘azza wa jalla. Sebagian orang, karena kebodohannya, mengatakan bahwa penyeruan orang yang telah meninggal dan meminta bantuan kepada mereka sebagai wasilah dan menganggapnya boleh. Ini adalah kesalahan besar, karena perbuatan ini adalah salah satu kesyirikan terbesar terhadap Allah, meskipun oleh sebagian orang yang bodoh atau orang musyrik dikatakan sebagai wasilah. Ini adalah cara beragama kaum musyrikin yang dicela Allah yang karenanya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk memngingkarinya dan memberi peringatan daripadanya.
Adapun wasilah yang disebutkan dalam Firman Allah ‘azza wa jalla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya. (QS. al-Maa`idah (5): 35)
Yang dimaksud dengan wasilah di sini adalah mendekatkan diri kepada-Nya subhaanahuu wa ta’aalaa dengan mentaati-Nya. Ini maksud yang sebenarnya seperti yang dikatakan oleh para ahli ilmu. Shalat adalah pendekatan diri (qurbah) kepada Allah, ia adalah wasilah, penyembelihan, seperti udhhiyah dan hady, karena Allah adalah wasilah, puasa adalah wasilah, sedekah adalah wasilah, zikir dan membaca al-Qur`an adalah wasilah. Ini adalah arti dari firman-Nya ‘azza wa jalla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya. (QS. al-Maa`idah (5): 35)
Artinya carilah pendekatan diri kepada-Nya dengan mentaati-Nya. Demikianlah seperti yang dikatakan `Ibn Katsiir, `Ibn Jariir, al-Baghawiy dan imam-imam ahli tafsir lainnya. Maksudnya carilah pendekatan diri kepada-Nya dengan mentaati-Nya dan carilah wasilah di manapun kamu berada dengan melaksanakan apa yang disyariatkan-Nya kepadamu, berupa shalat, puasa, sedekah dan ibadah lainnya yang disyariatkan. Seperti demikian pula firman-Nya dalam ayat yang lain:
أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. (QS. al-`Israa` (17): 57)
Seperti demikianlah para rasul dan pengikut mereka, mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai wasilah yang disyariatkan, berupa jihad, puasa, shalat, zikir, membaca al-Qur`an dan berbagai wasilah lainnya. Adapun keyakinan sebagian orang bahwa wasilah adalah bergantung dengan orang yang telah meninggal dan memohon pertolongan dengan para wali, maka ini adalah keyakinan yang batil dan salah. Ini adalah keyakinan orang yang musyrik, seperti yang difirmankan Allah tentang mereka:
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللهِ
Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.” (QS. Yuunus (10): 18)
Allah subhaanahuu menolak mereka dengan firman-Nya:
قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
Katakanlah! “Apakah kamu akan memberi tahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan itu. (QS. Yuunus (10): 18)

Penerjemahan selesai di:
Tibung, Kandangan, Kamis, 21 Syawwal 1431 H./30 September 2010 M. jam 13.09 WITA

Kutipan Seruan Para Habaib

Kalangan Habaib Serukan Untuk Tidak Merayakan Maulid Nabi!
Selasa, 15 Februari 11
Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawa nafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan “Maulid Nabi” dengan dalih “Cinta Rasul”, dan berbagai acara yang menyelisih syari’at, yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah penyimpangan, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’i al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.
Dalam sebuah pernyataan yang dilansir “Islam Today,” para Habaib berkata, “Bahwa Kewajiban Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan cinta yang hakiki pasti akan menyeru “Ittiba’ yang benar”.
Mereka (Para Habaib) menambahkan, “Di antara fenomena yang menyakitkan adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di antara syi’ar-syi’ar tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta.
Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hal itu dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,

لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخاري)
“Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” (HR. al-Bukhari)
Sedangkan seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan, “Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in.
Para Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait, “Wahai Tuan-tuan yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)
“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Berikut ini adalah teks pernyataannya:
Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang Peringatan/ perayaan Maulid Nabi.

الحمد لله رب العالمين، الهادي من شاء من عباده إلى صراطه المستقيم، والصلاة والسلام على أزكى البشرية، المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين .. أما بعد:
Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syariat yang beliau bawa adalah syariat yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا (المائدة:3)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (QS. 5:3)
Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keyakinan atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين (رواه البخاري ومسلم)
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia.” (HR. al-Bukhari & Muslim)
Beliau adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si empunya tempat yang mulia, telaga yang akan dikerumuni (oleh manusia), si empunya bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [الأحزاب:21]
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي (رواه مسلم)
“Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku.” (HR. Muslim).
Maka Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman,

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء:65]
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)
Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru “Ittiba’ yang benar”. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ.. [آل عمران:31]
“Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)
Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlul bait) haruslah sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan tidak menyalahi atau menyelisinya.
Dan di antara fenomena menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah ta’ala pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah peringatan Mahulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’i al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.
Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan ittiba’ (mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mengikuti (ittiba) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah komitmen dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syariat Islam.
Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,

لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخاري)
“Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” (HR. al-Bukhari)
Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.
Dan perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.
Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa pengecualian di dalamnya,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ (رواه مسلم)
“Semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim).
“Wahai tuan-tuan yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemuliaan Asal usul/ nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)
“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)! Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak mengajarkan petunjuk beliau! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata karena kedekatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah lelulur kalian dengan meninggalkan bid’ah dan seluruh yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda,

مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ (رواه مسلم)
“Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut.” (HR. Muslim).

والحمد لله رب العالمين،،
YANG MENANDATANGANI RISALAH DI ATAS ADALAH:
1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial “Adhdhamir al-Khairiyah” di Traim)
2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy)
3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.
4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum “Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’i di Ghail Bawazir)
5. Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).
6. Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).
7. Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).
8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar as-Saniyah)
9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).
10. Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala
11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)
12. Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha). (Istod/Rydh/AN)

Tanggapan untuk Selebaran Tim ASWAJA Kandangan

HALAQAH KAJIAN SUNNAH
“ISYHAMIDA MUTSYAHIDA”
Jalan. Jend. Sudirman 2/A No. 24 KM.2 Tibung Raya, Hamalau, Kandangan 71271 INDONESIA
E-Mail: isyhamida_mutsyahida@hotmail.co.id Face Book: Isyhamida Mutsyahida Twitter: @isyhamida
Kontak Pribadi (Hussein Benhadi): +62821 5614 1824 Kontak Umum: +62857 5405 8392

الساكت عن الحق شيطان أخرس (أبو على الدقاق)
Orang yang tak mau berbicara tentang kebenaran adalah setan bisu. (Abu ‘Ali ad-Daqqaq)

BUKTI KEDUSTAAN YANG DITUDUHKAN KEPADA SEORANG ULAMA

Ini adalah sebagian bukti dari beberapa kedustaan yang disampaikan oleh Tim ASWAJA Kandangan yang ditujukan kepada yang mulia Syekh Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaymin, rahimahullah Ta’ala.
Tim ASWAJA merujuk bahwa pendapat syekh yang mulia terdapat dalam kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaymin pada halaman 359, yang benar adalah fatwa No. 359, berikut fatwa selengkapnya:
(359) سئل فضيلة الشيخ : عن حكم التلاوة لروح الميت ؟
فأجاب قائلاً : التلاوة لروح الميت يعني أن يقرأ القرآن وهو يريد أن يكون ثوابه لميت من المسلمين هذه المسألة محل خلاف بين أهل العلم على قولين :
القول الأول: أن ذلك غير مشروع وأن الميت لا ينتفع به أي لا ينتفع بالقرآن في هذه الحال.
القول الثاني: أنه ينتفع بذلك وأنه يجوز للإنسان أن يقرأ القرآن بنية أنه لفلان أو فلانة من المسلمين، سواء كان قريباً أو غير قريب.
والراجح : القول الثاني لأنه ورد في جنس العبادات جواز صرفها للميت ، كما في حديث سعد ابن عبادة – رضي الله عنه – حين تصدق ببستانه لأمه ، وكما في قصة الرجل الذي قال للنبي ،صلى الله عليه وسلم :إن أمي افتلتت نفسها وأظنها لو تكلمت لتصدقت أفأتصدق عنها؟ قال النبي ،صلى الله عليه وسلم: “نعم” وهذه قضايا أعيان تدل على أن صرف جنس العبادات لأحد من المسلمين جائز وهو كذلك ، ولكن أفضل من هذا أن تدعو للميت ، وتجعل الأعمال الصالحة لنفسك لأن النبي ، صلى الله عليه وسلم ، قال : “إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أو علم ينتفع به ، أو ولد صالح يدعو له”. ولم يقل : أو ولد صالح يتلو له أو يصلي له أو يصوم له أو يتصدق عنه بل قال: – “أو ولد صالح يدعو له” والسياق في سياق العمل ، فدل ذلك على أن الأفضل أن يدعو الإنسان للميت لا أن يجعل له شيئاً من الأعمال الصالحة ، والإنسان محتاج إلى العمل الصالح، أن يجد ثوابه له مدخراً عند الله- عز وجل- . أما ما يفعله بعض الناس من التلاوة للميت بعد موته بأجرة ، مثل أن يحضروا قارئاً يقرأ القرآن بأجرة ، ليكون ثوابه للميت فإنه بدعة ولا يصل إلى الميت ثواب؛ لأن هذا القارئ إنما قرأ لأجل الدنيا ومن أتى بعبادة من أجل الدنيا فإنه لا حظ له منها في الآخرة كما قال الله – تعالى – : ( من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها وهم فيها لا يبخسون . أولئك الذين ليس لهم في الآخرة إلا النار وحبط ما صنعوا فيها وباطل ما كانوا يعملون) .
وإني بهذه المناسبة أوجه نصيحة لإخواني الذين يعتادون مثل هذا العمل أن يحفظوا أموالهم لأنفسهم أو لورثة الميت ، وأن يعلموا أن هذا العمل بدعة في ذاته ، وأن الميت لا يصل إليه ثوابه وحينئذٍ يكون أكلاً للأموال بالباطل ولم ينتفع الميت بذلك.

(359) Syekh yang Mulia ditanya tentang hukum bacaan untuk ruh mayyit?
Beliau menjawab dengan: Bacaan untuk ruh mayyit, artinya seseorang membaca al-Qur`an dan ia menginginkan pahalanya untuk seorang mayyit dari kaum muslimin. Permasalahan ini terdapat perbedaan pendapat pada ahlul ilmi atas dua pendapat:
Pertama: Bahwa yang demikian itu tidak disyariatkan dan bahwa mayyit tidak mendapat manfaat dengannya, artinya tidak mndapat manfaat dengan (bacaan) al-Qur`an pada keadaan ini. (Perhatikan kata tidak disyariatkan)*
Kedua: Bahwasanya mayyit mendapat manfaat dengan yang demikian, dan bahwasanya boleh seseorang membaca al-Qur`an dengan tujuan untuk si fulan atau fulanah dari kaum muslimin, baik kerabat ataupun tidak. (Perhatikan kata mendapat manfaat dan kata bahwasanya boleh)*
Yang rajih (tidak arjah) adalah pendapat yang kedua karena terdapat hadits yang menunjukkan kebolehan penggunaan ibadah untuk mayyit, seperti yang terdapat pada hadits Sa’d bin ‘Ubadah, semoga Allah meridhainya, ketika ia mensedekahkan kebunnya, dan seperti seseorang lelaki yang berkata kepada Nabi saw.: sesungguhnya ibuku mati mendadak, saya kira jika ia dapat berkata ia akan bersedekah, apakah saaya dapat bersedekah atas namanya? Nabi saw. bersabda: “Ya”. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebolehan penggunaan jenis berbagai ibadah untuk salah seorang dari kaum muslimin, dan ini memang demikian. Tetapi yang lebih utama (afdhal/arjah) bahwa Anda berdoa untuk si mayyit, dan Anda jadikan seluruh amal-saleh untuk Anda sendiri, karena Nabi saw. bersabda: Apabila seseorang meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang berguna, dan anak saleh yang mendoakannya. Dan nabi tidak mengatakan: Anak saleh yang membacakan al-Qur`an untuknya, atau shalat untuknya, atau puasa untuknya atau bersedekah atas namanya, tetapi Nabi bersabda: Anak saleh yang mendoakan untuknya. Ini adalah permasalahan amal. Yang demikian itu menunjukkan bahwa yang utama (afdhal/arjah) adalah bahwa sseseorang berdoa untuk si mayyit dan tidak menjadikan untuk mayyit sedikitpun amal-amal saleh, karena seseorang membutuhkan amal saleh dengan mendapatkan pahalanya tersimpan di sisi Allah ‘azza wa jalla.
Adapun yang dilakukan sebagian orang dengan membacakan untuk mayyit sesudah kematiannya dengan memberikan upah, seperti mendatangkan pembaca al-Qur`an dengan membayarnya atau diberi upah, agar pahala bacaannya diperuntukkan si mayyit, maka sesungguhnya ini adalah bid’ah dan sedikitpun pahalanya tidak sampai kepada si mayyit. Karena pembaca al-Qur`an ini membacanya karena dunia, siapa yang melakukan ibadah karena dunia maka tidak ada bagiannya (pahalanya) di akhirat, sebagaimana Firman Allah Ta’ala: Dan barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Hud (11): 15-16)
Pada kesempatan ini saya iangin memberikan nasihat kepada saudaraku yang telah membiasakan melakukan perbuatan in agar mereka memelihara harta mereka untuk diri mereka sendiri atau untuk pewaris, dan hendaklah mereka mengetahui bahwa yang demikian adalah bid’ah, dan bahwa mayyit tidak sampai sedikitpun pahala kepadanya, jika keadaannya seperti yang demikian maka yang demikian itu adalah memperoleh harta dengan cara yang batil dan mayyit tidak mendapatkan manfaat sedikitpun dengan yang demikian itu.

Perhatikan cara merujuk saja tidak tepat apalagi memahami maksud dari pemberi fatwa. Kalau sekiranya penulis kedustaan tersebut membaca secara lengkap buku tersebut terutama bagian tentang kesampaian pahala bagi mayyit, tentu akan berpendapat lain, silakan baca (terjemahan) fatwa di atas selengkapnya.
Inilah salah satu kedustaan yang ditujukan kepada Syekh Muhammad Shalih ‘Utsaymin. Semoga Allah mengampuni bagi orang telah melakukan kedustaan kepada Syeikh Muhammad Shalih ‘Utsaymin, dan semoga Allah memberi petunjuk kebenaran kepada kita semua.
Kedustaan lain adalah Tim ASWAJA memberi judul selebarannya:
TERNYATA TOKOH ‘ULAMA KAUM SALAFI – BERPENDAPAT BAHWA “PAHALA BACAAN AL-QURAN DAPAT MEMBERI MANFAAT (SAMPAI) KEPADA MAYAT”. (Qaul yang Rajih)
Bagian mana dari fatwa tersebut yang secara tegas menyimpulkan seperti judul yang ditulis tersebut. Judul tersebut menyimpulkan secara mutlak bahwa bacaan tersebut sampai, padahal kesimpulan tentang kesampaian pahala bacaan bersifat muqayyad, harus ada alasan yang mendukungnya. Untuk alasan pendukung ini Syeikh yang mulia menyebutkannya pada fatwa No. 360, silakan Anda membaca dan menelaahnya sendiri. Jadi kesimpulan yang ditulis melalui judul selebaran tersebut adalah kesimpulan mentah yang hanya mengaqmbil sebagian dari pendapat Syeikh yang mulia.
Kedustaan lain adalah dengan menyatakan bahwa sebagian dari ulama Kaum Salafi adalah:
1. Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (bukan M. Nasiruddin al-Bani)
2. Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (tidak terdapat ulama yang menjadi rujukan kaum Salafi yang bernama Muhammad Bin Baz)
3. Syeikh Muhammad bin Shalih bin Utsaymin, semoga Allah memberi rahmat mereka dan kita semua.
Kedustaannya adalah hanya mencukupkan pada tiga orang tersebut padahal masih banyak lagi ulama yang menjadi panutan Kaum Salafi, yang utama adalah Imam Ahmad bin Hanbal, dan terutama sekali adalah imam para ahli hadits. Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada Tim ASWAJA kenapa tidak menyebutkan lebih banyak dan hanya melokalisir pada tiga ulama tersebut, apakah hanya ingin memojokkan Kaum Wahabi karena mereka tinggal di Saudi Arabia. Padahal banyak lagi ulama yang tinggal di Semenanjung Arabia yang menjadi panutan Kaum Salafi. Apa maksud di balik semua ini?
Kedustaan lain adalah mereka menyatakan: Di antara mereka ………
Tentunya yang disampaikan kepada ummat adalah pendapat yang muktamad, dan yang muktamad dan kuat adalah tidak sampainya pahala, kaum Salafi tidak berdalil dengan orang tetapi berdalil dengan dasar yang kuat, untuk diketahui Imam Ibnul Qayyim juga menyatakan sampainya pahala dengan alasan (muqayyad), jadi apa yang mesti dipertanyakan? Perbedaan pendapat adalah hal biasa. Salah satu contoh adalah di dalam Madzhab Imam Syafi’i bahwa qunut adalah sunnah, padahal ada sebagian ulama Madzhab Syafi’i yang menyatakan kebid’ahannya, tetapi jumhur Syafi’iyyah menyatakan kesunnahannya, dan jarang sekali orang yang mau menyatakan pendapat tersebut, maka untuk konsumsi penganut madzhab Syafi’i disampaikan yang muktamad yaitu berqunut. Seperti itu juga kaum salafi, pendapat yang muktamad adalah tidak sampainya pahala, itu yang disampaikan kepada penganutnya. Sekali lagi, jadi apa yang perlu dipertanyakan. Lebih baik pura-pura bodoh (tajahul) dari pada pura-pura alim (ta’alum).
Kedustaan lain adalah mereka mempertanyakan: Kenapa kaum Salafi yang ada di banua kita malah melarang utk membaca Al-Qur’an? Jawabannya adalah karena keyakinan kaum Salafi hal itu adalah bid’ah yang merupakan salah satu kemungkaran yang wajib dilarang. Apakah kemungkaran tidak perlu dilarang?
Kedustaan lain lagi adalah: mereka mengemukakan dengan kajian ilmiah yang menyatakan kewajiban untuk menyampaikan seluruh pendapat yang ada dan tidak boleh menyembunyikan untuk memenangkan pendapatnya, dan menyatakan pendapatnya yang paling benar.
Pertama kaum salafi tidak pernah mengklaim pendapatnya paling benar, pernyataan mereka adalah menyatakan bahwa pendapat yang mereka pahami adalah yang paling mendekati sunnah. Jadi pernyataan atau tuduhan Tim ASWAJA adalah pernyataan dan tuduhan tendensius.
Kedua mereka menyatakan ketidak bolehan menyembunyikan satu pendapatpun, coba perhatikan ternyata Tim ASWAJA tidak menyebutkan fatwa Syeikh “Utsaymin secara lengkap. Pertanyaannya ada apa dengan yang mereka sampaikan, apa yang mereka tutup-tutupi, ada apa di balik semua ini? Menepuk air di dulang tepercik muka sendiri.
Kedustaan lain adalah mereka menyatakan keijmakan sampainya pahala, padahal Imam Syafi’i sendiri menyatakan ketidak sampaiannya, jadi dari mana dapat disimpulkan keijmakannya.
Semua ini adalah kedustaan yang nyata. Dan banyak lagi kedustaan lainnya dalam pernyataan Tim ASWAJA tersebut yang tidak dapat dituliskan di sini, yang tertulis tersebut kiranya sudah mencukupi. Yang amat mengecewakan adalah kepengecutan Tim Aswaja yang tidak menuliskan anggota timnya dan alamat yang lengkap.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua. Amin.
Kandangan, 13 Mei 2011.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.